Pontianak, BERKAT.
Setelah beberapa cukong illegal logging di Ketapang berhasil ditangkap, kini pihak kepolisian berhasil menangkap satu lagi seorang pemain illegal logging yang disebut-sebut juga memiliki andil besar dalam pembalakan liar di Tanah Kayong itu.Esiat, yang dikenal sebagai salah satu cukong besar di Ketapang ini, ditangkap pada Kamis (1/5) pukul 18.00 WIB di kediamannya Jalan Payakumang Desa Sukaharja Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang oleh tim Polres Ketapang.Namun sayang saat dikonfirmasi, pihak Polda Kalbar membantah dan hanya mengaku belum mengetahui adanya penangkapan tersebut. "Saya belum tahu. Baru saja saya ketemu dengan Kasat III Reskrim tapi belum ada informasinya. Yang jelas kita transparan kalau ada kita informasikan tidak akan kita tutup-tutupi," kilah Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Suhadi, SW di ruang kerjanya, kemarin.Padahal tertangkapnya Esiat pada Kamis malam telah menjadi buah bibir di masyarakat Ketapang lantaran diketahui di antara kapal dan kayu yang ditangkap tim Mabes Polri pertengahan Maret lalu salah satunya adalah milik Esiat yakni KM Citra Niaga yang memuat lebih kurang 400 meter kubik kayu tanpa dokumen.Penangkapan ini dibenarkan Kuasa Hukum Esiat, Jamhuri Amir, SH yang menyebutkan dirinya dihubungi yang bersangkutan ketika sudah di Mapolres Ketapang. "Memang benar dia di tangkap di rumahnya. Saat di periksa statusnya sudah jelas sebagai tersangka. Tapi dalam BAP-nya dia mengaku baru melakukan satu kali," kata Jamhuri yang berada di Ketapang saat dihubungi via ponsel, kemarin siang.Sumber yang berhasil di himpun BERKAT menyebutkan, Esiat adalah seorang cukong kayu yang telah lama melanglang buana di Ketapang untuk membabat habis isi hutan di kabupaten bagian selatan Kalimantan Barat itu.Sandai, Tayap dan Laur serta sekitar Sungai Pawan adalah sasaran wilayah operasi Esiat untuk menjarah hasil hutan di daerah tersebut. "Kerjasamanya" dengan sejumlah cukong illegal loggging di Ketapang bukanlah baru kali yang pertama. Sejak 10 tahun lalu salah satu pengurus DAD Ketapang ini telah bermain kayu. Dalam perjalanannya, Esiat selalu menggunakan TPK (Tempat Penampungan Kayu) bekas milik Ango di Ulu Ae' Jalan Sukaharja untuk menambatkan hasil jarahannya yang berjumlah ratusan kubik. Sudah menjadi rahasia umum, di antara TPK-TPK yang terbesar di Ketapang, TPK Ango adalah yang disebut-sebut TPK "Number One" dengan jumlah tampungan lebih dari 10 ribu kubik kayu dengan berbagai jenis.Tak hanya Ango yang menjadi "rekan seperjuangannya," namun masih banyak cukong illegal logging lainnya yang pernah menjadi relasi bisnis kayunya itu, sebut saja nama Wijaya, Fuad, Aun, Iin Solinar, Adi Murdiani, dan Akun. Kedekatannya dengan Wijaya seorang cukong yang sekarang menjalani tahanan di Mabes Polri, cukup beralasan lantaran Wijaya pernah diminta bantuan Esiat sebagai "makelar dokumen" untuk buatkan DKO (Daftar Kayu Olahan) dan FAKO (Faktur Angkutan Kayu Olahan) dengan nilai Rp 350 ribu per kubik dengan jumlah kayu sebanyak 3.078 batang atau setara dengan 487 meter kubik kayu yang rencananya akan dibawa ke Semarang."Memang dia mengaku kayu-kayu itu akan dibawa ke Jawa. Kedekatannya dengan cukong lain saya tidak tahu, hanya dia mengaku bekerja atas nama sendiri yang kayunya dibeli dari masyarakat," tambah Jamhuri Kuasa Hukum Esiat.Tertangkapnya Esiat, kembali menambah deretan nama-nama para cukong illegal logging yang berhasil ditangkap beberapa waktu lalu. Apresiasi diberikan Polda Kalbar dengan tertangkapnya Esiat. "Syukur lah kalau sudah tertangkap lebih bagus. Kemungkinan untuk dibawa ke Mabes bisa saja karena dia satu paket dengan kasus illegal logging yang baru ditangkap," kata Suhadi.Selaku Kuasa Hukum, Jamhuri tegaskan pihaknya akan tetap mendampingi kliennya kendati harus dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaaan. "Kalau dibawa ke Jakarta, kami akan mendampinginya," tegas Jamhuri. (rob)
Jumat, 02 Mei 2008
Maestro Dekorasi yang Populerkan Saprahan



Pontianak, BERKAT.
Kendati Yang Maha Kuasa telah memanggilnya, namun berbagai hasil karya seorang Fartemi Zain tak akan pernah hilang bak ditelan bumi hingga akhir hayat. Karya seni yang bernafaskan pelestarian budaya Melayu telah banyak dihasilkan dari pemikirannya sejak tahun 1989.Dibawah bendera CV Kenanga Citra Mandiri, dia berhasil menciptakan satu hasil karya seni tinggi yang inovatif dan kreatif sehingga menjadi daya tarik bagi setiap pasang mata yang menyaksikan dekorasinya. Tak kenal lelah dan pantang putus asa adalah motto yang dipakainya untuk membuat sebuah ruangan menjadi megah bak istana raja."Sebab kalau kita hobbi dengan satu pekerjaan maka pekerjaan itu pasti akan kita jiwai juga. Jadi jangan jadikan pekerjaan itu satu beban tapi jadikanlah hobbi, Insya Allah kamu akan dapat hasil yang memuaskan dari pekerjaanmu," kata Fartemi kepada BERKAT suatu ketika di kediamannya.Satu kata yang mengandung makna cukup berarti bagi siapa saja yang benar-benar menjalankannya dimanapun dia berada, sehingga apa yang dikerjakannya akan menghasilkan kepuasan baik batin maupun moril tanpa harus dengan berbagai keluhan.Saprahan salah satu tradisi budaya makan ala Melayu yang sebelumnya sempat hilang lantaran tidak populer di kalangan masyarakat Melayu Kalbar, namun ditangan Fartemi lah tradisi ini mulai dihidupkan kembali. Padahal zaman dahulu kala saprahan ini merupakan tradisi makan yang paling banyak digunakan para raja yang ada di Kalbar untuk berbagai kegiatan di istana. Sebab makna yang terkandung di saprahan ini membuat orang sangat tertarik yakni duduk sama rendah berdiri sama tinggi artinya siapapun yang datang pada acara tersebut tidak melihat darimana maupun latar belakang orang tersebut, namun tetap sama sebagai umat manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Ribuan peralatan pun diturunkan untuk sekali acara saprahan di antaranya mangkok basi yang konon dipercaya makanan tersebut tidak akan basi hingga beberapa lama disimpan, gelas labu untuk air putih, pahar tembaga untuk meletakan kue-kue, piring kaca untuk buah, mangkok kobokan. Dan untuk menambah daya tarik digunakanlah napkin atau sapu tangan yang dibuat dengan berbagai bentuk. Sejumlah pelayan pun dikerahkan untuk melayani para tetamu yang akan menikmati makanan khas Melayu seperti nasi kebuli, masak ayam putih, dalca, pacri nenas, daging semur, sambal terasi, dan air minum serbat yang berwarna merah. Sehingga tak heran, kalau setiap berbagai acara seperti pernikahan masyarakat tertarik untuk menggelar saprahan ini. Aspar Aswin dan Usman Djafar adalah dua mantan gubernur Kalbar yang pernah ditangani Fartemi untuk kegiatannya dengan menggunakan tradisi saprahan ini. Tak hanya itu saja, sejumlah anggota MPR/ DPR/ DPD RI pun pernah merasakan hasil karya Fartemi didalam penataan dekorasi ruangan untuk pernikahan putra/putri mereka, sebut saja Oesman Sapta, Ikot Rinding, Asial Salekan, Ir. Zulfadhli, Gusti Hersan Aslirosa, Buchary A Rachman, Sutardmiji, Sabhan A Rasyid, Henri Usman, Bupati Bengkayang, Bupati Kabupaten Pontianak, pejabat provinsi, pejabat kota, tokoh masyarakat/ agama/ adat serta masyarakat umum lainnya. Dan yang terakhir kali, dia diminta untuk menata peralatan makan pada pesta pernikahan Gubernur Cornelis belum lama ini.Selain itu, cucu dari H. Busri (Pendiri pabrik karet pertama di Kalbar yakni Busri Rubber Sheet) ini sering diminta menjadi dewan juri antara lain pada festival bujang dan dare, serta salah satu penggagas festival meriam karbit yang sering digelar di tepian Sungai Kapuas setiap tahunnya. Komitmen dan perjuangannya untuk melestarikan budaya ini berimbas positif terhadap tenaga kerja yang dibutuhkannya. Sejak awal dibukanya tak terhitung berapa banyak tenaga kerja yang direkrutnya untuk bersama-sama mengembangkan dan mempertahankan adat istiadat budaya daerah ini. Sekaligus mendidik mereka untuk mengenal lebih dekat akan kekayaan budaya daerahnya.Tak hanya di dunia seni budaya, dosen FKIP Untan ini pun aktif di dunia pendidikan dan kampus serta organisasi sosial lainnya, seperti di PII (Pelajar Islam Indonesia), AMPI, KNPI, Golkar, Yayasan Supersemar, pendiri Yayasan Bina 45 dan sebagainya. Sehingga tak heran kalau alumni IKIP Bandung ini pun dekat mahasiswanya ketika menjadi dosen.Semoga kecintaan dan kepeduliannya terhadap tradisi budaya daerah dapat diteruskan semua pihak khususnya generasi muda sehingga apa yang dicita-citakan almarhum untuk mengangkat nama daerah di dunia seni budaya tidak sia-sia. "Selamat jalan wahai saudaraku, sahabatku, ayahndaku, semoga engkau tenang di sisiNya. Dan mendapat ridho dari Allah SWT," kata Haitami Salim, Ketua STAIN Pontianak yang juga merupakan teman dekat saat menghadiri penguburan almarhum. (rob)
Kendati Yang Maha Kuasa telah memanggilnya, namun berbagai hasil karya seorang Fartemi Zain tak akan pernah hilang bak ditelan bumi hingga akhir hayat. Karya seni yang bernafaskan pelestarian budaya Melayu telah banyak dihasilkan dari pemikirannya sejak tahun 1989.Dibawah bendera CV Kenanga Citra Mandiri, dia berhasil menciptakan satu hasil karya seni tinggi yang inovatif dan kreatif sehingga menjadi daya tarik bagi setiap pasang mata yang menyaksikan dekorasinya. Tak kenal lelah dan pantang putus asa adalah motto yang dipakainya untuk membuat sebuah ruangan menjadi megah bak istana raja."Sebab kalau kita hobbi dengan satu pekerjaan maka pekerjaan itu pasti akan kita jiwai juga. Jadi jangan jadikan pekerjaan itu satu beban tapi jadikanlah hobbi, Insya Allah kamu akan dapat hasil yang memuaskan dari pekerjaanmu," kata Fartemi kepada BERKAT suatu ketika di kediamannya.Satu kata yang mengandung makna cukup berarti bagi siapa saja yang benar-benar menjalankannya dimanapun dia berada, sehingga apa yang dikerjakannya akan menghasilkan kepuasan baik batin maupun moril tanpa harus dengan berbagai keluhan.Saprahan salah satu tradisi budaya makan ala Melayu yang sebelumnya sempat hilang lantaran tidak populer di kalangan masyarakat Melayu Kalbar, namun ditangan Fartemi lah tradisi ini mulai dihidupkan kembali. Padahal zaman dahulu kala saprahan ini merupakan tradisi makan yang paling banyak digunakan para raja yang ada di Kalbar untuk berbagai kegiatan di istana. Sebab makna yang terkandung di saprahan ini membuat orang sangat tertarik yakni duduk sama rendah berdiri sama tinggi artinya siapapun yang datang pada acara tersebut tidak melihat darimana maupun latar belakang orang tersebut, namun tetap sama sebagai umat manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Ribuan peralatan pun diturunkan untuk sekali acara saprahan di antaranya mangkok basi yang konon dipercaya makanan tersebut tidak akan basi hingga beberapa lama disimpan, gelas labu untuk air putih, pahar tembaga untuk meletakan kue-kue, piring kaca untuk buah, mangkok kobokan. Dan untuk menambah daya tarik digunakanlah napkin atau sapu tangan yang dibuat dengan berbagai bentuk. Sejumlah pelayan pun dikerahkan untuk melayani para tetamu yang akan menikmati makanan khas Melayu seperti nasi kebuli, masak ayam putih, dalca, pacri nenas, daging semur, sambal terasi, dan air minum serbat yang berwarna merah. Sehingga tak heran, kalau setiap berbagai acara seperti pernikahan masyarakat tertarik untuk menggelar saprahan ini. Aspar Aswin dan Usman Djafar adalah dua mantan gubernur Kalbar yang pernah ditangani Fartemi untuk kegiatannya dengan menggunakan tradisi saprahan ini. Tak hanya itu saja, sejumlah anggota MPR/ DPR/ DPD RI pun pernah merasakan hasil karya Fartemi didalam penataan dekorasi ruangan untuk pernikahan putra/putri mereka, sebut saja Oesman Sapta, Ikot Rinding, Asial Salekan, Ir. Zulfadhli, Gusti Hersan Aslirosa, Buchary A Rachman, Sutardmiji, Sabhan A Rasyid, Henri Usman, Bupati Bengkayang, Bupati Kabupaten Pontianak, pejabat provinsi, pejabat kota, tokoh masyarakat/ agama/ adat serta masyarakat umum lainnya. Dan yang terakhir kali, dia diminta untuk menata peralatan makan pada pesta pernikahan Gubernur Cornelis belum lama ini.Selain itu, cucu dari H. Busri (Pendiri pabrik karet pertama di Kalbar yakni Busri Rubber Sheet) ini sering diminta menjadi dewan juri antara lain pada festival bujang dan dare, serta salah satu penggagas festival meriam karbit yang sering digelar di tepian Sungai Kapuas setiap tahunnya. Komitmen dan perjuangannya untuk melestarikan budaya ini berimbas positif terhadap tenaga kerja yang dibutuhkannya. Sejak awal dibukanya tak terhitung berapa banyak tenaga kerja yang direkrutnya untuk bersama-sama mengembangkan dan mempertahankan adat istiadat budaya daerah ini. Sekaligus mendidik mereka untuk mengenal lebih dekat akan kekayaan budaya daerahnya.Tak hanya di dunia seni budaya, dosen FKIP Untan ini pun aktif di dunia pendidikan dan kampus serta organisasi sosial lainnya, seperti di PII (Pelajar Islam Indonesia), AMPI, KNPI, Golkar, Yayasan Supersemar, pendiri Yayasan Bina 45 dan sebagainya. Sehingga tak heran kalau alumni IKIP Bandung ini pun dekat mahasiswanya ketika menjadi dosen.Semoga kecintaan dan kepeduliannya terhadap tradisi budaya daerah dapat diteruskan semua pihak khususnya generasi muda sehingga apa yang dicita-citakan almarhum untuk mengangkat nama daerah di dunia seni budaya tidak sia-sia. "Selamat jalan wahai saudaraku, sahabatku, ayahndaku, semoga engkau tenang di sisiNya. Dan mendapat ridho dari Allah SWT," kata Haitami Salim, Ketua STAIN Pontianak yang juga merupakan teman dekat saat menghadiri penguburan almarhum. (rob)
Ribuan Ton Hasil Buah Kalbar
Pontianak, BERKAT.
Beberapa jenis komoditas buah-buahan yang memiliki potensi cukup besar di Kalbar diantaranya jeruk, pisang, durian, rambutan, nangka-cempedak, nanas dan langsat.Produksi jeruk memiliki peluang cukup besar, setelah terpuruk akibat penyakit serta tata niaga yang kurang tepat. tahun 2001 dan 2002 hanya menghasilkan 863 ton dan 1.161 ton. Terjadi lonjakan yang cukup besarpada produksi jeruk di tahun 2003 yaitu sebesar 53.218 ton dan menanjak lagi di tahun 2005 sebesar 147.478 ton. Tahun 2006 diprediksikan mencapai 150.839 ton. Sentra produksi jeruk Kalbar terdapat di Kabupaten Sambas dan Kota Singkawang.Untuk pisang selama 2001- 2005 produksinya mencapai 19,49 persen per tahun dengan perbandingan di tahun 2001 64.288 ton dan tahun 2005 mencapai 96.834 ton. Diperkirakan tahun 2006 mencapai 99.849 ton. Sentra produksi pisang terbesar berada di Kota Pontianak. Namun pengusahaan pisang masih berskala rumah tangga atau tumpang sari. Buah Durian mencatat perkembangan yang meyakinkan. Dari tahun 2001- 2005 berkembang sebesar 17.43 persen per tahun. Tahun 2000 mencapai 19.662 ton sedangkan 2005 mencapai 42.455 ton, tahun 2006 diprediksikan mencapai 44.932 ton. Durian merupakan tanaman lama, dan pengolahan industrinya telah berkembang dengan baik. Kalbar menyumbang 67,57 persen dari total produksi Kalimantan. Sentra produksi durian di daerah Ketapang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau dan Sintang.Kendati produksi selama 5 tahun berfluktuasi, tahun 2004 Kalbar menghasilkan buah rambutan 48.381 ton. di Pulau Kalimantan, Kalbar tetap produsen rambutan terbesar yaitu 56 persen.Nangka-cempedak dari tahun 2001-2005 pertumbuhannya rata-rata mencapai 16,4 persen per tahun. Tahun 2001 mencapai 9.039 ton, sedangkan tahun 2005 mencapai 17.282 ton. Pada tahun 2006 mampu mencapai 14.174,62 ton. Sentra produksinya tersebar di Kabupaten Sanggau menyusul Kabupaten Pontianak, Ketapang dan Bengkayang. Akan tetapi industri pengelolaannya masih belum berkembang di Kalbar sehingga mempengaruhi harga jual di masa panen.Kabupaten Pontianak merupakan sentra produksi nanas dengan jumlah produksi mencapai 65,66 persen. Tahun 2000, produksinya mencapai 2.511 ton sedangkan tahun 2005 mencapai 13.540 ton. Pada tahun 2006 diperkirakan mencapai 14.174,62 ton. Namun industri pengolahannya belum berkembang sehingga mempengaruhi harga saat panen. Diharapkan dalam waktu dekat industri pengolahannya segera terwujud.Produksi langsat di Kalbar berfluktuasi, tahun 2000 mencapai 5.561 ton sedangkan tahun 2002 mencapai 8.046 ton namun tahun berikutnya naik turun sehingga produksinya di tahun 2005 5.745 ton dan ditahun 2006 diprediksikan mencapai 8.858 ton. Sekitar 38,24 persen langsat berada di Kabupaten Pontianak yang terkenal dengan nama langsat Punggur. (rob)
Beberapa jenis komoditas buah-buahan yang memiliki potensi cukup besar di Kalbar diantaranya jeruk, pisang, durian, rambutan, nangka-cempedak, nanas dan langsat.Produksi jeruk memiliki peluang cukup besar, setelah terpuruk akibat penyakit serta tata niaga yang kurang tepat. tahun 2001 dan 2002 hanya menghasilkan 863 ton dan 1.161 ton. Terjadi lonjakan yang cukup besarpada produksi jeruk di tahun 2003 yaitu sebesar 53.218 ton dan menanjak lagi di tahun 2005 sebesar 147.478 ton. Tahun 2006 diprediksikan mencapai 150.839 ton. Sentra produksi jeruk Kalbar terdapat di Kabupaten Sambas dan Kota Singkawang.Untuk pisang selama 2001- 2005 produksinya mencapai 19,49 persen per tahun dengan perbandingan di tahun 2001 64.288 ton dan tahun 2005 mencapai 96.834 ton. Diperkirakan tahun 2006 mencapai 99.849 ton. Sentra produksi pisang terbesar berada di Kota Pontianak. Namun pengusahaan pisang masih berskala rumah tangga atau tumpang sari. Buah Durian mencatat perkembangan yang meyakinkan. Dari tahun 2001- 2005 berkembang sebesar 17.43 persen per tahun. Tahun 2000 mencapai 19.662 ton sedangkan 2005 mencapai 42.455 ton, tahun 2006 diprediksikan mencapai 44.932 ton. Durian merupakan tanaman lama, dan pengolahan industrinya telah berkembang dengan baik. Kalbar menyumbang 67,57 persen dari total produksi Kalimantan. Sentra produksi durian di daerah Ketapang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau dan Sintang.Kendati produksi selama 5 tahun berfluktuasi, tahun 2004 Kalbar menghasilkan buah rambutan 48.381 ton. di Pulau Kalimantan, Kalbar tetap produsen rambutan terbesar yaitu 56 persen.Nangka-cempedak dari tahun 2001-2005 pertumbuhannya rata-rata mencapai 16,4 persen per tahun. Tahun 2001 mencapai 9.039 ton, sedangkan tahun 2005 mencapai 17.282 ton. Pada tahun 2006 mampu mencapai 14.174,62 ton. Sentra produksinya tersebar di Kabupaten Sanggau menyusul Kabupaten Pontianak, Ketapang dan Bengkayang. Akan tetapi industri pengelolaannya masih belum berkembang di Kalbar sehingga mempengaruhi harga jual di masa panen.Kabupaten Pontianak merupakan sentra produksi nanas dengan jumlah produksi mencapai 65,66 persen. Tahun 2000, produksinya mencapai 2.511 ton sedangkan tahun 2005 mencapai 13.540 ton. Pada tahun 2006 diperkirakan mencapai 14.174,62 ton. Namun industri pengolahannya belum berkembang sehingga mempengaruhi harga saat panen. Diharapkan dalam waktu dekat industri pengolahannya segera terwujud.Produksi langsat di Kalbar berfluktuasi, tahun 2000 mencapai 5.561 ton sedangkan tahun 2002 mencapai 8.046 ton namun tahun berikutnya naik turun sehingga produksinya di tahun 2005 5.745 ton dan ditahun 2006 diprediksikan mencapai 8.858 ton. Sekitar 38,24 persen langsat berada di Kabupaten Pontianak yang terkenal dengan nama langsat Punggur. (rob)
Kekayaan Alam dari Bumi Sintang

Pontianak, BERKAT.
Kabupaten Sintang mempunyai potensi bahan galian mineral atau pertambangan yang sangat potensial untuk dikembangkan akan tetapi hingga saat ini baru beberapa sumber daya alam yang tergali.Terdapat empat jenis potensi pertambangan yang terindikasi tersebar di Kabupaten Sintang yaitu, pertama, bahan mineral logam berupa air raksa yang terdapat di Kecamatan Ketungau Hilir dan Ketungau Tengah, emas terdapat di Sungai Melawi, Kecamatan Sintang, Kecamatan Dedai, Desa Sungai Empanang dan Sungai Sebawak, Sungai Keronang di Kecamatan Ketungau Hilir, Sungai Senaning (2 lokasi) di Kecamatan Ketungau Hulu, Sungai Tempunak Kecamatan Tempunak, Sungai Serawai, perak terdapat di Nanga Toe Sungai Ketungau yang hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki yang memakan waktu setengah jam perjalanan di Kecamatan Ketungau Hilir serta Sungai Melawi Kecamatan Dedai, Sungai Empawang dan Sungai Entagak Kecamatan Ketungau Hilir.Kedua, bahan mineral industri berupa, mika yang terdapat di Sili Kecamatan Sepauk dan Bukit Kemintung Kecamatan Sintang, dan pasir kuarsa terdapat di Gandis Kecamatan Dedai. Ketiga, bahan mineral kontruksi seperti andesit di Gunung Gembah Kecamatan Sintang dengan cadangan 300 miliar ton, Bukit Kelam Kecamatan Kelam Permai dengan cadangan lebih dari 200 miliar, Gunung Luit Kecamatan Sintang dengan cadangan lebih dari 25 miliar ton, Gunung Rentap Kecamatan Sintang dengan cadangan lebih dari 200 miliar ton, Gunung Labu Kecamatan Dedai dengan cadangan sebesar 100 miliar ton, Gunung Saran Kecamatan Tempunak dengan cadangan sebesar 100 miliar ton, Bk. Kedang Kec. Ketungau Hilir cadangan sebesar > 25 miliar, Nanga Dedai Kecamatan Dedai cadangan sebesar 25 miliar ton, basal terdapat di Condong, Langka, Belitung, Sandar Kecamatan Ketungau Hulu sebesar 3.000 miliar ton serta granit terdapat di Hulu Sungai Jelimbu Kecamatan Tempunak sebesar 200 miliar. Keempat, bahan mineral energi seperti, batubara terdapat di Senaning, Boyan, Sungai Pangkalan, Sungai Belitang, Kampung Emparu, Bangkit dengan kadar 4795-7440 kl/gr, Dusun Span dan Dusun Kiam Sejawa dengan kadar 4900 - 7800 kl/gr Kecamatan Ketungau Hulu dengan cadangan keseluruhan 13.670.000 ton, Desa Merakai, Sungai Peturan, Sungai Jirak, Sungai Pedian, Sungai Kulan dan Hulu Sungai Seluah dengan kadar 7075 dan cadangan sebesar 18 juta ton di Kecamatan Ketungau Tengah, Bukit Alat Kecamatan Kayan Hulu dengan kadar 7400-8280 dengan cadangan 13 juta ton dan gambut terindikasi di Kecamatan Sintang, Tempunak dan Kecamatan Dedai serta sumber air panas terindikasi terdapat di Kecamatan Ketungau Tengah. Perusahaan Pemegang Kuasa Pertambangan (KP) di Kabupaten Sintang antara lain, PT. Yama Bumi Palaka yang telah eksplorasi dengan luas area 81.860 hektar di lokasi Kecamatan Ketungau Hulu dan Ketungau Tengah, dengan bahan galian batubara, PT. Cipta Usaha Tani dengan tahapan KP eksplorasi KW 98JPN070 dengan luas area 10.470 di lokasi Kecamatan Ketungau Hulu dan Ketungau Tengah dengan bahan galian batubara. (rob)
Sulap Lahan Tidur Menjadi Jungkat Beach

Pontianak, BERKAT.
Objek wisata Jungkat Beach di Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak yang terletak lebih kurang 19 kilometer dari Kota Pontianak memang masih baru.Terdorong dari satu keinginan memberikan tempat wisata yang bernuansa alam, sejak tahun 2004 lalu Tjandra Winto, Pengelola Jungkat Beach, telah mengubah lahan tidur yang seluas 10 hektar tersebut menjadi sebuah tempat yang memiliki satu daya tarik tersendiri bagi para pengunjung atau wisatawan yang ingin datang untuk menikmati Jungkat Beach (Pantai Jungkat). "Apalagi jarak dari Kota Pontianak tidak terlalu jauh, hanya 30 menit sudah sampai di lokasi dengan motor atau mobil," tutur Tjandra kepada BERKAT beberapa waktu lalu.Ketertarikannya Tjandra untuk mengelola Jungkat Beach ini lantaran dia melihat ada beberapa kelebihan yang dimiliki di lokasi tersebut antara lain, merupakan titik akhir muara sungai terpanjang di Indonesia, bahkan salah satu terpanjang di dunia yakni Sungai Kapuas yang langsung berhadapan dengan Laut Cina Selatan."Disamping itu ketika sore hari, para pengunjung dapat mengabadikan dan menikmati keindahan sunset yang dapat dilihat langsung melalui Jungkat Beach ini. Apalagi pengunjung dapat juga melihat berbagai jenis kapal yang masuk dan keluar baik dari dan ke Pontianak," tuturnya.Kendati demikian ia mengakui masih ada beberapa fasilitas yang harus dibenahi sebagai bentuk satu pelayanan terhadap pengunjung yang akan datang. Misalnya kolam renang, jet sky, parasering, mainan anak-anak, penginapan dan lain-lain. Apalagi ditempat tersebut memiliki kolam untuk bermain waterbug yang airnya sangat jernih sehingga dasar kolam yang bersifat alami tersebut dapat terlihat.Fasilitas yang belum terwujud itu dikarenakan faktor modal untuk mendanai pembangunannya. Belum lagi, pengetahuan dirinya tentang kepariwisataan masih minim, padahal keinginannya untuk mengelola dan membangun daerah dibidang pariwisata sangat besar guna membantu program pemerintah dalam rangka menuju Kalbar Tourism 2010."Apalagi masyarakat setempat menyambut baik dengan adanya Jungkat Beach karena diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan serta memberikan kontribusi bagi daerah untuk meningkatkan perekonomian dan pembangunan dari sektor pendapatan asli daerah (PAD)," ucapnya.(rob)
Kamis, 01 Mei 2008
In Memoriam Sang Budayawan
Pontianak, BERKAT.
Siapa yang tak kenal Fartemi Zain, seorang penata dekorasi terbesar di Pontianak. Kepeduliannya dan kecintaanya terhadap seni budaya khususnya budaya Melayu dia curahkan melalui usahanya dibidang dekorasi dan catering sejak tahun 1989.
Namun sayang, Selasa (29/4) pukul 15.30 WIB, pria yang juga seorang dosen FKIP Untan sejak 1985 ini, dipanggil Yang Maha Kuasa saat dalam perjalanan menuju RSU St. Antonius lantaran sakit yang dideritanya diusia 53 tahun.
Inalillah Wainalilah Rajiun, sebuah kata yang terucap dari setiap orang yang mendengar kepergian sang budayawan Kalbar ini. Jerit tangis dan kepedihan dari istri dan lima orang anak yang ditinggalkannya serta kerabat dan teman dekat yang mengetahui "kepergiannya menghadap Sang Khalik" pun tak terbendungkan lagi.
"Padahal bapak paginya masih sempat pesan ayam dan daging untuk catering di rumah Melayu," kata Ulfa Hatamimi istri almarhumah ketika ditemui BERKAT di kediamannya.
Terlihat dari wajah sang istri yang juga seorang guru di salah satu SD ini duka dan sedih yang mendalam. Kejadian yang tak diduga itu pun membuat terkejut bagi kelima anaknya, terutama Fikri Hairuman Zain, Fathan Al Muassim, serta Fadil Al Farabi yang sedang menimba ilmu pendidikan di Pondok Pesantren Al Zaitun Jawa Barat. Sebab mereka tak sempat lagi melihat abahnya untuk yang terakhir kali.
Ketabahan dan kesabaran itulah yang terungkap dari kelima wajah anak-anak almarhum saat mereka melihat orang tua yang dicintainya untuk yang terakhir kali saat akan dimasukan ke liang lahat. Didikan dan tempaan di Pondok Pesantren Al Zaitun membuat mereka pasrah kepada Allah SWT untuk dapat menerima musibah yang menimpanya.
Lahir pada 22 Desember 1955, pendiri Yayasan Bina 45 ini adalah orang yang pertama kembali menghidupkan budaya saprahan yakni tradisi makan ala Melayu yang sempat hilang bak ditelan bumi. Tradisi ini dulunya digunakan hanya di kalangan istana untuk berbagai kegiatan kerajaan.
Ditangan Fartemi lah, tradisi yang mengandung makna "duduk sama rendah berdiri sama tinggi" ini, mulai dipopulerkan kembali dalam berbagai kegiatan. Sehingga tak heran masyarakat Pontianak, yang akan mengadakan acara baik itu bersifat pribadi seperi kawinan maupun acara formal, mulai dari pejabat Provinsi Kalbar, Kota Pontianak hingga masyarakat biasa tertarik menggunakan saprahan ini.
Aktivis pekerja sosial, itulah gelar yang diberikan Drs. Haitami Salim, teman dekat almarhum, ketika masih di satu organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia). "Beliau telah membuka peluang kerja bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Tak terhitung sudah berapa banyak yang beliau bantu," kata Ketua STAIN/ IAIN Pontianak ini saat menghadiri penguburan di Kampung Saigon, Rabu (30/4).
Tampak hadir saat melayat di kediaman almarhum Jalan Karangan Komplek Untan antara lain, Wakil Walikota Pontianak, Sutardmiji, tokoh agama, Sabhan A Rasyid, Pengurus Yayasan Bina 45, Arifin, Purek III Untan, Edi Suratman, para penata dekorasi, relasi dan sebagainya. (rob)
Siapa yang tak kenal Fartemi Zain, seorang penata dekorasi terbesar di Pontianak. Kepeduliannya dan kecintaanya terhadap seni budaya khususnya budaya Melayu dia curahkan melalui usahanya dibidang dekorasi dan catering sejak tahun 1989.
Namun sayang, Selasa (29/4) pukul 15.30 WIB, pria yang juga seorang dosen FKIP Untan sejak 1985 ini, dipanggil Yang Maha Kuasa saat dalam perjalanan menuju RSU St. Antonius lantaran sakit yang dideritanya diusia 53 tahun.
Inalillah Wainalilah Rajiun, sebuah kata yang terucap dari setiap orang yang mendengar kepergian sang budayawan Kalbar ini. Jerit tangis dan kepedihan dari istri dan lima orang anak yang ditinggalkannya serta kerabat dan teman dekat yang mengetahui "kepergiannya menghadap Sang Khalik" pun tak terbendungkan lagi.
"Padahal bapak paginya masih sempat pesan ayam dan daging untuk catering di rumah Melayu," kata Ulfa Hatamimi istri almarhumah ketika ditemui BERKAT di kediamannya.
Terlihat dari wajah sang istri yang juga seorang guru di salah satu SD ini duka dan sedih yang mendalam. Kejadian yang tak diduga itu pun membuat terkejut bagi kelima anaknya, terutama Fikri Hairuman Zain, Fathan Al Muassim, serta Fadil Al Farabi yang sedang menimba ilmu pendidikan di Pondok Pesantren Al Zaitun Jawa Barat. Sebab mereka tak sempat lagi melihat abahnya untuk yang terakhir kali.
Ketabahan dan kesabaran itulah yang terungkap dari kelima wajah anak-anak almarhum saat mereka melihat orang tua yang dicintainya untuk yang terakhir kali saat akan dimasukan ke liang lahat. Didikan dan tempaan di Pondok Pesantren Al Zaitun membuat mereka pasrah kepada Allah SWT untuk dapat menerima musibah yang menimpanya.
Lahir pada 22 Desember 1955, pendiri Yayasan Bina 45 ini adalah orang yang pertama kembali menghidupkan budaya saprahan yakni tradisi makan ala Melayu yang sempat hilang bak ditelan bumi. Tradisi ini dulunya digunakan hanya di kalangan istana untuk berbagai kegiatan kerajaan.
Ditangan Fartemi lah, tradisi yang mengandung makna "duduk sama rendah berdiri sama tinggi" ini, mulai dipopulerkan kembali dalam berbagai kegiatan. Sehingga tak heran masyarakat Pontianak, yang akan mengadakan acara baik itu bersifat pribadi seperi kawinan maupun acara formal, mulai dari pejabat Provinsi Kalbar, Kota Pontianak hingga masyarakat biasa tertarik menggunakan saprahan ini.
Aktivis pekerja sosial, itulah gelar yang diberikan Drs. Haitami Salim, teman dekat almarhum, ketika masih di satu organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia). "Beliau telah membuka peluang kerja bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Tak terhitung sudah berapa banyak yang beliau bantu," kata Ketua STAIN/ IAIN Pontianak ini saat menghadiri penguburan di Kampung Saigon, Rabu (30/4).
Tampak hadir saat melayat di kediaman almarhum Jalan Karangan Komplek Untan antara lain, Wakil Walikota Pontianak, Sutardmiji, tokoh agama, Sabhan A Rasyid, Pengurus Yayasan Bina 45, Arifin, Purek III Untan, Edi Suratman, para penata dekorasi, relasi dan sebagainya. (rob)
Jambore Antinarkoba II Akan Digelar
Pontianak, BERKAT.
Untuk kedua kalinya, Satuan Tugas Antinarkoba (SAN) Kalbar akan menggelar jambore antinarkoba pada 3-5 Juli mendatang di Pantai Jungkat Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak. Menurut Ketua SAN Kalbar, Joko Santoso kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian semua pihak terutama generasi muda untuk peduli terhadap dampak dari narkoba.
"Sebab jika seseorang sudah masuk dalam dunia narkoba maka kerugian yang akan dideritanya sangat luar biasa. Ini yang tidak kami inginkan," tegas Joko.
Kerugian materiil, moral bahkan lebih jauh lagi penyakit AIDS/ HIV akan dirasakan dikatakan Joko akan dirasakan mereka yang kecanduan akan narkoba. Dia katakan sangat disayangkan jika ini terus menerus terjadi terhadap generasi muda yang notabene para penerus bangsa ini.
"Apa jadinya kalau teman-teman generasi muda ini tidak kita bantu dengan berbagai pencerahan yang positif agar tidak terpengaruh dengan narkoba," ujarnya.
Pergaulan bebas, mudah mendapatkannya, rasa ingin tahu, ingin melarikan diri dari permasalahan yang dihadapi menurutnya adalah faktor penyebab mereka kecanduan dengan narkoba sehingga terkadang sulit untuk melepaskannya akhirnya menjadi ketagihan lantaran keinginan yang terus menggebu-gebu untuk mendapatkan barang haram itu.
Karena hal ini dia katakan sebagai bentuk tanggung jawab moral SAN untuk membentuk kepribadian generasi muda dengan berbagai kegiatan positif, sesuai dengan misi SAN untuk membantu masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri dan ortang lain mencegah dan menanggulangi penanggulangan narkoba di lingkungannya masing-masing.
"Selain itu kami juga membantu dan mengembangkan program pemerintah untuk mengurangi pemakaian narkoba di masyarakat," ujarnya.
Kegiatan yang bertajuk dengan adanya jambore antinarkoba II kita tingkatkan kepedulian pada generasi muda/ masyarakat terhadap penyelahgunaan narkoba ini direncanakan akan diikuti para LSM/ NGO antinarkoba, pelajar/ mahasiswa, OKP, aktivis dan sebagainya. (rob)
Untuk kedua kalinya, Satuan Tugas Antinarkoba (SAN) Kalbar akan menggelar jambore antinarkoba pada 3-5 Juli mendatang di Pantai Jungkat Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak. Menurut Ketua SAN Kalbar, Joko Santoso kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian semua pihak terutama generasi muda untuk peduli terhadap dampak dari narkoba.
"Sebab jika seseorang sudah masuk dalam dunia narkoba maka kerugian yang akan dideritanya sangat luar biasa. Ini yang tidak kami inginkan," tegas Joko.
Kerugian materiil, moral bahkan lebih jauh lagi penyakit AIDS/ HIV akan dirasakan dikatakan Joko akan dirasakan mereka yang kecanduan akan narkoba. Dia katakan sangat disayangkan jika ini terus menerus terjadi terhadap generasi muda yang notabene para penerus bangsa ini.
"Apa jadinya kalau teman-teman generasi muda ini tidak kita bantu dengan berbagai pencerahan yang positif agar tidak terpengaruh dengan narkoba," ujarnya.
Pergaulan bebas, mudah mendapatkannya, rasa ingin tahu, ingin melarikan diri dari permasalahan yang dihadapi menurutnya adalah faktor penyebab mereka kecanduan dengan narkoba sehingga terkadang sulit untuk melepaskannya akhirnya menjadi ketagihan lantaran keinginan yang terus menggebu-gebu untuk mendapatkan barang haram itu.
Karena hal ini dia katakan sebagai bentuk tanggung jawab moral SAN untuk membentuk kepribadian generasi muda dengan berbagai kegiatan positif, sesuai dengan misi SAN untuk membantu masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri dan ortang lain mencegah dan menanggulangi penanggulangan narkoba di lingkungannya masing-masing.
"Selain itu kami juga membantu dan mengembangkan program pemerintah untuk mengurangi pemakaian narkoba di masyarakat," ujarnya.
Kegiatan yang bertajuk dengan adanya jambore antinarkoba II kita tingkatkan kepedulian pada generasi muda/ masyarakat terhadap penyelahgunaan narkoba ini direncanakan akan diikuti para LSM/ NGO antinarkoba, pelajar/ mahasiswa, OKP, aktivis dan sebagainya. (rob)
Diskriminasi Akibatkan Monopoli Perdagangan Gula
Pontianak, BERKAT.
Setiap peredaran gula di daerah tetap berdasarkan atas permintaan Kepala Disperindag kabupaten/ kota setempat sesuai dengan kebutuhan di daerah tersebut sebab aturan ini berlandaskan pada Juklak Nomor 14/PDN/SK/III/2004 tentang permintaan gula tiap-tiap daerah kabupaten/ kota.
Namun, dalam penyalurannya, Disperindag harus berkoordinasi dengan tim monitoring lainnya yang telah tercantum dalam SK Menteri Pertanian selaku Ketua Dewan Gula Indonesia (DGI)Nomor 113/Kptn/CT.140/3/2006, sedangkan di daerah khususnya Kalbar sesuai dengan SK Gubernur Nomor 327/2005 dimana Ketua Tim Monitoringnya adalah Disperindag Kalbar.
Kebijakan tersebut untuk mencegah terjadinya diskriminasi yang mengakibatkan timbulnya monopoli perdagangan gula di Kalbar khususnya. Penegasan itu dikatakan Ketua DPD APEGTI (Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia)Kalbar, Sy. Usman Almuthahar kepada BERKAT kemarin.
"Sebab hal itu akan melanggar UU Nomor 5/1999 tentang Antimonopoli jika dilanggar. Dan selama ini kebijakan itu tidak pernah dijalankan di Kalbar," tegas Usman.
Menyikapi hal ini, APEGTI yang di pusat masuk dalam Pokja I dan di daerah termasuk 1 dari 13 yang menjadi anggota tim monitoring, telah merekomendasikan ke Disperindag Kalbar berkaitan dengan importasi, pengadaan dan penyaluran gula. Intinya rekomendasi tersebut mengatur tata cara manajemen gula seperti kejelasan siapa distributor yang ditunjuk, asal gulanya darimana dan berapa jumlah yang diorder.
"Tujuannya untuk mempermudah pengawasan tim monitoring turun ke lapangan terhadap peredaran gula yang masuk apakah itu antarpulau maupun impor. Artinya hal ini sejalan dengan komitmen aparat penegak hukum untuk memberantas ilegal trading seperti gula," ujar kerabat Istana Kadariah ini.
Terhadap anggota, APEGTI tetap berkomitmen memberikan kemudahan bagi distributor yang mendaftar menjadi anggota APEGTI tanpa melalui proses yang sulit. Usman juga membantah selama masa kepemimpinannya, APEGTI tidak pernah mengeluarkan rekomendasi gula hingga kini dan tidak pernah menerima fee seperti yang diisukan selama ini.
"Tidak pernah APEGTI terima fee dari para distributor gula manapun di Kalbar. Justru saya tegaskan bagi anggota yang melanggar ketentuan melakukan perdagangan ilegal dikeluarkan dari keanggotaan APEGTI. Bahkan kami laporkan ke aparat untuk diproses hukum," tegas Pangeran Laksamana Muda ini.
Peran APEGTI dia katakan adalah untuk bersama-sama membantu dan mengawasi peredaran tata niaga gula dan menerapkan manajemen sesuai dengan aturan. "Akan tetapi bagi mereka yang tidak masuk dalam keanggotaan APEGTI ada indikasi mereka tidak mau diawasi," tegasnya.
Sementara itu Pimpinan CV Bintang Kapuas Utama, H.M. Sulaiman salah satu distributor gula di Kalbar mengakui peredaran gula ilegal di Kalbar memang sangat marak terutama yang berasal dari Malaysia. Apalagi dengan harga yang murah ketimbang gula yang masuknya dengan resmi yang dilakukan pengusaha yang terdaftar dalam PGAPT (Pedagang Gula Antar Pulau Terdaftar).
"Akibatnya pedagang gula yang resmi atau anggota APEGTI sulit dan tidak mampu untuk bersaing. Sebab gula ilegal harganya jauh lebih murah dibandingkan gula dari antarpulau yang berasal dari Jawa atau Sumatera," ungkapnya.
Dia tidak menampik kalau para pengusaha besar ikut bermain memasukan gula ilegal tersebut. Sebab tanpa ada peran dari pengusaha besar tersebut tidak mungkin ribuan ton gula ilegal masuk ke Kalbar. Harapannya, dia meminta instansi terkait seperti Disperindag untuk tidak mempersulit distributor untuk memasukan gula ke Kalbar. (rob)
Setiap peredaran gula di daerah tetap berdasarkan atas permintaan Kepala Disperindag kabupaten/ kota setempat sesuai dengan kebutuhan di daerah tersebut sebab aturan ini berlandaskan pada Juklak Nomor 14/PDN/SK/III/2004 tentang permintaan gula tiap-tiap daerah kabupaten/ kota.
Namun, dalam penyalurannya, Disperindag harus berkoordinasi dengan tim monitoring lainnya yang telah tercantum dalam SK Menteri Pertanian selaku Ketua Dewan Gula Indonesia (DGI)Nomor 113/Kptn/CT.140/3/2006, sedangkan di daerah khususnya Kalbar sesuai dengan SK Gubernur Nomor 327/2005 dimana Ketua Tim Monitoringnya adalah Disperindag Kalbar.
Kebijakan tersebut untuk mencegah terjadinya diskriminasi yang mengakibatkan timbulnya monopoli perdagangan gula di Kalbar khususnya. Penegasan itu dikatakan Ketua DPD APEGTI (Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia)Kalbar, Sy. Usman Almuthahar kepada BERKAT kemarin.
"Sebab hal itu akan melanggar UU Nomor 5/1999 tentang Antimonopoli jika dilanggar. Dan selama ini kebijakan itu tidak pernah dijalankan di Kalbar," tegas Usman.
Menyikapi hal ini, APEGTI yang di pusat masuk dalam Pokja I dan di daerah termasuk 1 dari 13 yang menjadi anggota tim monitoring, telah merekomendasikan ke Disperindag Kalbar berkaitan dengan importasi, pengadaan dan penyaluran gula. Intinya rekomendasi tersebut mengatur tata cara manajemen gula seperti kejelasan siapa distributor yang ditunjuk, asal gulanya darimana dan berapa jumlah yang diorder.
"Tujuannya untuk mempermudah pengawasan tim monitoring turun ke lapangan terhadap peredaran gula yang masuk apakah itu antarpulau maupun impor. Artinya hal ini sejalan dengan komitmen aparat penegak hukum untuk memberantas ilegal trading seperti gula," ujar kerabat Istana Kadariah ini.
Terhadap anggota, APEGTI tetap berkomitmen memberikan kemudahan bagi distributor yang mendaftar menjadi anggota APEGTI tanpa melalui proses yang sulit. Usman juga membantah selama masa kepemimpinannya, APEGTI tidak pernah mengeluarkan rekomendasi gula hingga kini dan tidak pernah menerima fee seperti yang diisukan selama ini.
"Tidak pernah APEGTI terima fee dari para distributor gula manapun di Kalbar. Justru saya tegaskan bagi anggota yang melanggar ketentuan melakukan perdagangan ilegal dikeluarkan dari keanggotaan APEGTI. Bahkan kami laporkan ke aparat untuk diproses hukum," tegas Pangeran Laksamana Muda ini.
Peran APEGTI dia katakan adalah untuk bersama-sama membantu dan mengawasi peredaran tata niaga gula dan menerapkan manajemen sesuai dengan aturan. "Akan tetapi bagi mereka yang tidak masuk dalam keanggotaan APEGTI ada indikasi mereka tidak mau diawasi," tegasnya.
Sementara itu Pimpinan CV Bintang Kapuas Utama, H.M. Sulaiman salah satu distributor gula di Kalbar mengakui peredaran gula ilegal di Kalbar memang sangat marak terutama yang berasal dari Malaysia. Apalagi dengan harga yang murah ketimbang gula yang masuknya dengan resmi yang dilakukan pengusaha yang terdaftar dalam PGAPT (Pedagang Gula Antar Pulau Terdaftar).
"Akibatnya pedagang gula yang resmi atau anggota APEGTI sulit dan tidak mampu untuk bersaing. Sebab gula ilegal harganya jauh lebih murah dibandingkan gula dari antarpulau yang berasal dari Jawa atau Sumatera," ungkapnya.
Dia tidak menampik kalau para pengusaha besar ikut bermain memasukan gula ilegal tersebut. Sebab tanpa ada peran dari pengusaha besar tersebut tidak mungkin ribuan ton gula ilegal masuk ke Kalbar. Harapannya, dia meminta instansi terkait seperti Disperindag untuk tidak mempersulit distributor untuk memasukan gula ke Kalbar. (rob)
Hildi - Said Didukung Rakyat Kayong Utara
Kayong Utara, BERKAT.
Cita luhur tokoh besar H.Oesman Sapta, menjadikan tanah Kayong Utara sebagai kabupaten yang terdepan, maju serta makmur di Indonesia, disambut masyarakat Kayong Utara. "Saya percaya Hildi Hamid dan Said mampu mengemban amanah, dan saya tidak sembarangan memilih orang, apalagi ini menyangkut soal tanah kelahiran yang sejak lama saya cita-citakan," kata Oesman Sapta dihadapan puluhan ribu pendukung Hiidy-Said, di Telok Batang, Telok Melanau dan Sukadana. Hampir setiap kampanye pasangan no urut 2 ini, disambut hangat ribuan massa pendukung setia Hildi – Said. Di Telok Batang, Jumat (25/4) massa pendukung yang sebagian besar mengenakan kostum bergambar Hildi- Said dan no 2, berjubel memadati lapangan sepak bola tersebut, begitu juga di Lapangan Sepak Bola Teluk Melanau (26/4) dan Lapangan Sepak Bola Bayangkara Sukadana (27/4). Di Sematan (28/4) dan Desa Riam Berasap, Selasa (29/4) kemarin.
Bujang salah seorang pedagang toko kelontongan di Pasar Sukadana mengaku akan memilih pasangan Hildi – Said. "Kita sebagai pedagang, sudah tahu apa yang diperjuangkan Pak Man (panggilan akrab kepada Oesma Sapta, oleh warga Kayong-red) kepada daerah ini. Kalau Pak Hildi dan Pak Said terpilih jadi bupati, saya yakin, seyakin - yakinnya pasti daerah ini akan maju pesat, sebab beliau sangat cinta dan sayang kepada tanah kelahirannya. Itu sudah beliau buktikan kepada negara ini, siapa tidak tahu, beliau adalah pengusaha besar yang sukses dan cukup disegani di dalam maupun di luar negari, tentu beliau tidak sembarangan memberikan amanah," kata Bujang, yang mengaku yakin tidak akan lama lagi Kayong Utara akan mengalami perubahan pembangunan ekonomi yang cukup besar.
Lain halnya yang diungkapkan Syarifudin salah satu tokoh pemuda Telok Batang. Menurutnya, sebagai calon bupati Kayong Utara, Hildi Hamid memiliki tanggung jawab untuk membangun dan meningkatkan pembangunan di KKU.
"Selain sebagai putra daerah, dia berperan besar dalam pemekaran Kayong Utara, saya tahu betul beliau adalah Ketua Dewan Penasihat Pemekaran Kayong Utara. Jadi wajar jika perjuangan beliau dalam pemekaran Kayong dihargai masyarakat. Nah, anehnya yang tidak berbuat bahkan ada yang dulunya menolak pemekaran kok sekarang malah jadi pahlawan kesiangan, kok tak malu ye,"ungkap Syarifudin.
Dalam pencalonan ini, Hildy Hamid yang merupakan mantan anggota DPRD Tingkat I Kalbar dan Muhammad Said yang pernah menjabat Kepala Dinas Kelautan Kabupaten Pontianak ini didukung oleh 9 partai. Di antaranya Partai Demokrat, PAN, PKPB, Partai Patriot, PPD, PBB, PDK, PKB, serta PKS.
Ketua Koordinator Wilayah Kalimantan yang juga pengurus DPP PKS, Rahman Amin secara tegas mengungkapkan partainya sangat selektif untuk menentukan sikap sebagai salah satu partai pendukung bagi pasangan Hildi-Said. "Pasangan ini memiliki kriteria yang ada dalam PKS, untuk itu kami mendukung. Apalagi setelah mengetahui Bapak Oesman Sapta secara dalam, ternyata pemikiran dan pandangan jauh ke depan beliau, ternyata sama dengan pemikiran orang PKS yakni untuk kepentingan orang banyak," ungkap Rahman di Sukadana saat mengikuti sejumlah agenda kampanye Hildi – Said. (rob).
Cita luhur tokoh besar H.Oesman Sapta, menjadikan tanah Kayong Utara sebagai kabupaten yang terdepan, maju serta makmur di Indonesia, disambut masyarakat Kayong Utara. "Saya percaya Hildi Hamid dan Said mampu mengemban amanah, dan saya tidak sembarangan memilih orang, apalagi ini menyangkut soal tanah kelahiran yang sejak lama saya cita-citakan," kata Oesman Sapta dihadapan puluhan ribu pendukung Hiidy-Said, di Telok Batang, Telok Melanau dan Sukadana. Hampir setiap kampanye pasangan no urut 2 ini, disambut hangat ribuan massa pendukung setia Hildi – Said. Di Telok Batang, Jumat (25/4) massa pendukung yang sebagian besar mengenakan kostum bergambar Hildi- Said dan no 2, berjubel memadati lapangan sepak bola tersebut, begitu juga di Lapangan Sepak Bola Teluk Melanau (26/4) dan Lapangan Sepak Bola Bayangkara Sukadana (27/4). Di Sematan (28/4) dan Desa Riam Berasap, Selasa (29/4) kemarin.
Bujang salah seorang pedagang toko kelontongan di Pasar Sukadana mengaku akan memilih pasangan Hildi – Said. "Kita sebagai pedagang, sudah tahu apa yang diperjuangkan Pak Man (panggilan akrab kepada Oesma Sapta, oleh warga Kayong-red) kepada daerah ini. Kalau Pak Hildi dan Pak Said terpilih jadi bupati, saya yakin, seyakin - yakinnya pasti daerah ini akan maju pesat, sebab beliau sangat cinta dan sayang kepada tanah kelahirannya. Itu sudah beliau buktikan kepada negara ini, siapa tidak tahu, beliau adalah pengusaha besar yang sukses dan cukup disegani di dalam maupun di luar negari, tentu beliau tidak sembarangan memberikan amanah," kata Bujang, yang mengaku yakin tidak akan lama lagi Kayong Utara akan mengalami perubahan pembangunan ekonomi yang cukup besar.
Lain halnya yang diungkapkan Syarifudin salah satu tokoh pemuda Telok Batang. Menurutnya, sebagai calon bupati Kayong Utara, Hildi Hamid memiliki tanggung jawab untuk membangun dan meningkatkan pembangunan di KKU.
"Selain sebagai putra daerah, dia berperan besar dalam pemekaran Kayong Utara, saya tahu betul beliau adalah Ketua Dewan Penasihat Pemekaran Kayong Utara. Jadi wajar jika perjuangan beliau dalam pemekaran Kayong dihargai masyarakat. Nah, anehnya yang tidak berbuat bahkan ada yang dulunya menolak pemekaran kok sekarang malah jadi pahlawan kesiangan, kok tak malu ye,"ungkap Syarifudin.
Dalam pencalonan ini, Hildy Hamid yang merupakan mantan anggota DPRD Tingkat I Kalbar dan Muhammad Said yang pernah menjabat Kepala Dinas Kelautan Kabupaten Pontianak ini didukung oleh 9 partai. Di antaranya Partai Demokrat, PAN, PKPB, Partai Patriot, PPD, PBB, PDK, PKB, serta PKS.
Ketua Koordinator Wilayah Kalimantan yang juga pengurus DPP PKS, Rahman Amin secara tegas mengungkapkan partainya sangat selektif untuk menentukan sikap sebagai salah satu partai pendukung bagi pasangan Hildi-Said. "Pasangan ini memiliki kriteria yang ada dalam PKS, untuk itu kami mendukung. Apalagi setelah mengetahui Bapak Oesman Sapta secara dalam, ternyata pemikiran dan pandangan jauh ke depan beliau, ternyata sama dengan pemikiran orang PKS yakni untuk kepentingan orang banyak," ungkap Rahman di Sukadana saat mengikuti sejumlah agenda kampanye Hildi – Said. (rob).
Laporkan Pelaku Pencucian Beras
Pontianak, BERKAT.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalbar, Dra. Ida Kartini, M.Si dengan tegas meminta kepada masyarakat yang mengetahui adanya pengusaha yang melakukan pencucian beras segera laporkan.
"Saya minta masyarakat laporkan jika menemukan pelaku usaha atau pengusaha yang mencuci beras dengan bahan berbahaya dan zat-zat yang tidak diperbolehkan. Tolong dikasih tahu supaya kita tim terpadu bisa turun membuktikan kebenarannya," tegas Ida.
Penegasan itu disampaikan Ida lantaran Asosiasi Beras Indonesia (ABI) Kalbar mensinyalir 3 dari 15 perusahaan pemegang izin Angka Pengenal Impor (API) Umum dan API Khusus Beras telah melakukan pencucian beras dengan menggunakan bahan berbahaya zat kimia yang dampaknya dapat merusak organ tubuh manusia yang telah mengonsumsi beras tersebut. Ciri-cirinya antara lain, struktur warna yang tadinya kekuning-kuningan menjadi putih mengkilat dan bersih.
"Masyarakat tidak melihat dampak kesehatannya yang penting dilihatnya bagus, harganya murah, dibelinya saja beras itu," kata Ketua ABI Kalbar, Sy. Usman Almuthahar.
Karena itu Ida mengharapkan laporan dari masyarakat yang menemukan oknum pengusaha melakukan pencucian beras dengan zat kimia itu. Dan pihaknya akan segera melakukan tindakan di lapangan. Kendati demikian Ida belum dapat memberikan keterangan yang pasti apakah ijin usahanya itu dicabut atau tidak jika ditemukan melakukan pencucian beras tersebut.
"Harus dibuktikan dulu sampai sejauh mana kesalahannya. Pakar hukumlah yang tahu dan yang menentukannya nanti dipersidangan," ujar Ida.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kalbar, Ir. Hazairin mengaku belum menemukan para pelaku usaha yang melakukan pencucian beras dengan zat kimia. "Belum ada saya temukan itu," kata Hazairin.
Yang ada diungkapkan Hazairin yakni Ke-Be (baca:kibi)sebuah alat pengkristalisasian beras tanpa menggunakan bahan kimia dengan tujuan untuk meningkatkan hasil produksi beras petani yang telah diterapkan di sejumlah tempat penggilingan padi di Kalbar, antara lain di Kawasan Usaha Agrobisnis Terpadu (KUAT) Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
"Alat Ke-Be ini akan menghasilkan bentuk beras seperti kristal atau mengkilat sehingga harga jualnya akan lebih tinggi," kata Hazairin.
Dia menjamin alat ini bebas dari bahan kimia dan tidak membahayakan kesehatan sebab sebelum dimasukan ke dalam mesin, beras tersebut telah melalui prosesing sehingga terpisah yang utuh dan yang pecah.
Pun demikian dia mengharapkan masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan beras berpenampilan yang bagus namun kualitasnya rendah lantaran penampilan yang bagus justru telah menghilangkan kandungan vitamin dan gizi yang ada di beras tersebut. (rob)
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalbar, Dra. Ida Kartini, M.Si dengan tegas meminta kepada masyarakat yang mengetahui adanya pengusaha yang melakukan pencucian beras segera laporkan.
"Saya minta masyarakat laporkan jika menemukan pelaku usaha atau pengusaha yang mencuci beras dengan bahan berbahaya dan zat-zat yang tidak diperbolehkan. Tolong dikasih tahu supaya kita tim terpadu bisa turun membuktikan kebenarannya," tegas Ida.
Penegasan itu disampaikan Ida lantaran Asosiasi Beras Indonesia (ABI) Kalbar mensinyalir 3 dari 15 perusahaan pemegang izin Angka Pengenal Impor (API) Umum dan API Khusus Beras telah melakukan pencucian beras dengan menggunakan bahan berbahaya zat kimia yang dampaknya dapat merusak organ tubuh manusia yang telah mengonsumsi beras tersebut. Ciri-cirinya antara lain, struktur warna yang tadinya kekuning-kuningan menjadi putih mengkilat dan bersih.
"Masyarakat tidak melihat dampak kesehatannya yang penting dilihatnya bagus, harganya murah, dibelinya saja beras itu," kata Ketua ABI Kalbar, Sy. Usman Almuthahar.
Karena itu Ida mengharapkan laporan dari masyarakat yang menemukan oknum pengusaha melakukan pencucian beras dengan zat kimia itu. Dan pihaknya akan segera melakukan tindakan di lapangan. Kendati demikian Ida belum dapat memberikan keterangan yang pasti apakah ijin usahanya itu dicabut atau tidak jika ditemukan melakukan pencucian beras tersebut.
"Harus dibuktikan dulu sampai sejauh mana kesalahannya. Pakar hukumlah yang tahu dan yang menentukannya nanti dipersidangan," ujar Ida.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kalbar, Ir. Hazairin mengaku belum menemukan para pelaku usaha yang melakukan pencucian beras dengan zat kimia. "Belum ada saya temukan itu," kata Hazairin.
Yang ada diungkapkan Hazairin yakni Ke-Be (baca:kibi)sebuah alat pengkristalisasian beras tanpa menggunakan bahan kimia dengan tujuan untuk meningkatkan hasil produksi beras petani yang telah diterapkan di sejumlah tempat penggilingan padi di Kalbar, antara lain di Kawasan Usaha Agrobisnis Terpadu (KUAT) Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
"Alat Ke-Be ini akan menghasilkan bentuk beras seperti kristal atau mengkilat sehingga harga jualnya akan lebih tinggi," kata Hazairin.
Dia menjamin alat ini bebas dari bahan kimia dan tidak membahayakan kesehatan sebab sebelum dimasukan ke dalam mesin, beras tersebut telah melalui prosesing sehingga terpisah yang utuh dan yang pecah.
Pun demikian dia mengharapkan masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan beras berpenampilan yang bagus namun kualitasnya rendah lantaran penampilan yang bagus justru telah menghilangkan kandungan vitamin dan gizi yang ada di beras tersebut. (rob)
Senin, 28 April 2008
Pengusaha Utamakan Beras Lokal
Pontianak, BERKAT.
Kendati banyaknya jenis beras luar yang masuk ke Kalbar, namun pemerintah meminta kepada sejumlah pengusaha beras untuk mengedepankan produk beras lokal, dalam rangka membantu petani memasarkan dan meningkatkan jumlah produksinya. Selama ini berbagai jenis beras yang masuk ke Kalbar berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Makassar, serta Jakarta (beras impor,red).
"Pengusaha seharusnya mengedepankan beras lokal. Padahal kita sudah coba minta pengusaha untuk lakukan itu. Tapi mereka bilang berasnya tidak terkumpul," kata Kepala Disperindag Kalbar, Dra. Ida Kartini, M.Si.
Hal itu disampaikan Ida lantaran di sejumlah pasar tradisional maupun pasar moderen, marak berbagai jenis beras dengan bermacam merek. Padahal, untuk kualitas beras lokal sendiri tak kalah saing dengan beras yang berasal dari luar Kalbar.
Ida mengakui kalau dulu pihaknya telah menstimulasi dan memfasilitasi para pengusaha yang memiliki izin Angka Pengenal Impor (API) Umum dan API Khusus Beras yang notabene adalah pedagang antarpulau tersebut agar membuat kemasan yang bagus untuk produk lokal.
"Dulu pernah beras lokal dikemas dengan bagus seperti di Hypermart. Tapi setelah itu, ketika pemerintah tidak membantu kemasan mulai hilang lagi. Kalau memang mereka mau kan bisa, seperti beras dari Sungai Kakap dikemas bagus," ungkap Ida.
Ida pun heran banyaknya jenis beras yang masuk ke Kalbar kendati hal itu sah-sah saja karena mereka memang ada izinnya. Apalagi untuk tata niaga beras memang belum diatur dan tidak ada larangan sehingga mereka diberikan keleluasaan dan kebebasan untuk memasok dan memperdagangkan beras ke Kalbar.
"Tapi bukan berarti pengusaha sebebas-bebasnya berdagang, cuma tata niaga eskpornya yang diatur. Tujuannya untuk melindungi produksi petani dan harga tetap stabil," kata Ida.
Namun demikian, dia mengakui kendala yang dihadapi adalah pengawasannya yang kurang terkontrol lantaran para pedagang ingin mencari keuntungan besar. Sebab untuk memberikan tanggung jawab moral kepada pengusaha untuk melindungi kebutuhan daerahnya sendiri dirasakan susah.
Asosiasi Beras Indonesia (ABI) Kalbar memperkirakan sebanyak 30-an lebih jenis beras beredar di Kalbar, antara lain, beras jenis pandan wangi, asia jaya, mangga, lohan, menir, golden field, jala emas, Bulog, spiderman, top man, anak terbang, king, mangkok, kampung dan sebagainya. Disinyalir beras-beras tersebut dikeluarkan para pengusaha yang memiliki izin API yang berjumlah 15 pengusaha, namun tidak memiliki izin dari Disperindag dalam memberikan nama jenis beras tersebut.
"Padahal untuk memberikan nama-nama jenis beras tentunya harus ada izin hak patennya. Tapi ini semau-maunya berikan nama. Asalnya juga dari mana beras-beras itu patut dipertanyakan," kata Ketua ABI Kalbar, Sy. Usman Almuthahar.
Dia mengkhawatirkan beras-beras tersebut adalah beras oplosan yang dicampur antara beras berkualitas rendah yang harga murah dengan yang bagus sehingga menjadi beras super dengan harga tinggi. (rob)
Kendati banyaknya jenis beras luar yang masuk ke Kalbar, namun pemerintah meminta kepada sejumlah pengusaha beras untuk mengedepankan produk beras lokal, dalam rangka membantu petani memasarkan dan meningkatkan jumlah produksinya. Selama ini berbagai jenis beras yang masuk ke Kalbar berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Makassar, serta Jakarta (beras impor,red).
"Pengusaha seharusnya mengedepankan beras lokal. Padahal kita sudah coba minta pengusaha untuk lakukan itu. Tapi mereka bilang berasnya tidak terkumpul," kata Kepala Disperindag Kalbar, Dra. Ida Kartini, M.Si.
Hal itu disampaikan Ida lantaran di sejumlah pasar tradisional maupun pasar moderen, marak berbagai jenis beras dengan bermacam merek. Padahal, untuk kualitas beras lokal sendiri tak kalah saing dengan beras yang berasal dari luar Kalbar.
Ida mengakui kalau dulu pihaknya telah menstimulasi dan memfasilitasi para pengusaha yang memiliki izin Angka Pengenal Impor (API) Umum dan API Khusus Beras yang notabene adalah pedagang antarpulau tersebut agar membuat kemasan yang bagus untuk produk lokal.
"Dulu pernah beras lokal dikemas dengan bagus seperti di Hypermart. Tapi setelah itu, ketika pemerintah tidak membantu kemasan mulai hilang lagi. Kalau memang mereka mau kan bisa, seperti beras dari Sungai Kakap dikemas bagus," ungkap Ida.
Ida pun heran banyaknya jenis beras yang masuk ke Kalbar kendati hal itu sah-sah saja karena mereka memang ada izinnya. Apalagi untuk tata niaga beras memang belum diatur dan tidak ada larangan sehingga mereka diberikan keleluasaan dan kebebasan untuk memasok dan memperdagangkan beras ke Kalbar.
"Tapi bukan berarti pengusaha sebebas-bebasnya berdagang, cuma tata niaga eskpornya yang diatur. Tujuannya untuk melindungi produksi petani dan harga tetap stabil," kata Ida.
Namun demikian, dia mengakui kendala yang dihadapi adalah pengawasannya yang kurang terkontrol lantaran para pedagang ingin mencari keuntungan besar. Sebab untuk memberikan tanggung jawab moral kepada pengusaha untuk melindungi kebutuhan daerahnya sendiri dirasakan susah.
Asosiasi Beras Indonesia (ABI) Kalbar memperkirakan sebanyak 30-an lebih jenis beras beredar di Kalbar, antara lain, beras jenis pandan wangi, asia jaya, mangga, lohan, menir, golden field, jala emas, Bulog, spiderman, top man, anak terbang, king, mangkok, kampung dan sebagainya. Disinyalir beras-beras tersebut dikeluarkan para pengusaha yang memiliki izin API yang berjumlah 15 pengusaha, namun tidak memiliki izin dari Disperindag dalam memberikan nama jenis beras tersebut.
"Padahal untuk memberikan nama-nama jenis beras tentunya harus ada izin hak patennya. Tapi ini semau-maunya berikan nama. Asalnya juga dari mana beras-beras itu patut dipertanyakan," kata Ketua ABI Kalbar, Sy. Usman Almuthahar.
Dia mengkhawatirkan beras-beras tersebut adalah beras oplosan yang dicampur antara beras berkualitas rendah yang harga murah dengan yang bagus sehingga menjadi beras super dengan harga tinggi. (rob)
Lanal Turunkan Intelijen Awasi Gula Ilegal
Pontianak, BERKAT.
Maraknya peredaran gula ilegal di Kalbar membuat pihak Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Pontianak merasa risih dan ikut bertanggungjawab lantaran dinilai gula adalah salah satu kebutuhan pokok yang strategis bagi ketahanan pangan menyangkut kepentingan hajat hidup orang ramai. Apalagi Lanal Pontianak adalah 1 dari 13 instansi terkait yang termasuk dalam anggota tim monitoring perdagangan gula antarpulau di Provinsi Kalimantan Barat.
"Jelas saya turunkan intelijen sendiri bagaimana kita mencari data, mengamati dan lain-lain terhadap peredaran gula ilegal di Kalbar. Apalagi sudah ada telegram dari Kasal. Jadi tidak ada kompromi terhadap kegiatan gula ilegal ini," tegas Komandan Lanal Pontianak, Letkol (s) Taufik Harun.
Danlanal menyebutkan bahwa setiap pos telah diberikan perintah agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah kapal yang diduga kemungkinan membawa gula tanpa dokumen lengkap alias ilegal. Pemangkat, Wajok dan Jungkat hingga Pontianak adalah tiga perairan yang dinilai jalur rawan untuk peredaran gula ilegal tersebut.
Guna mengantisipasi peredaran gula ilegal di Kalbar dia mengharapkan peran dan partisipasi masyarakat untuk memberikan informasi ke Lanal Pontianak. Sebab tanpa bantuan masyarakat tidak mungkin pihaknya dapat menangkap pelaku gula ilegal tersebut.
"Tapi informasi itu jangan main-main. Disebutkan ada kapal yang akan masuk muat gula ratusan ton tapi setelah kita kejar hingga ke Pulau Dato dari pagi hingga malam ketemu pagi tidak ada. Rupanya kita dibohongi. Bahan bakar sudah terpakai 10 ton. Bayangkan sekali kita dibohongi berapa nilai kerugian negara," ungkap Danlanal.
Pola pasif atau menunggu di titik rawan adalah strategi yang tepat untuk membekuk pelaku gula ilegal. Sebab pola ini yang kemungkinan lebih efektif daripada berputar ternyata hanya dibohongi.
"Karena kalau sudah enam mil cakrawala tidak kelihatan lagi. Sebab dengan speedboat kalau kena ombak besar tidak bisa jadi harus kembali lagi," ujarnya.
Harapannya dikatakan Danlanal Pemprov Kalbar dapat membantu dalam percepatan pembangunan pangkalan dan menyiapkan kapal untuk melakukan operasi di perairan Kalbar.
Berdasarkan SK dari Disperindag Kalbar Nomor 510/36/SPDN/2007 Tertanggal 18 Januari 2007 menyebutkan sebelas perusahaan di Kalbar direkomendasikan sebagai distributor gula eks impor. Dan berdasarkan Juklak Nomor 14/PDN/SK/III/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perdagangan Gula Antarpulau menyebutkan rekomendasi terhadap perusahaan tersebut diberikan jika ada permintaan dari Disperindag kabupaten/ kota setempat untuk kebutuhan gula di daerah setempat.
Kendati telah jelas peraturan tersebut, namun dalam perjalanannya peredaran gula di Kalbar terkesan kurang terkontrol. "Ini dapat dilihat maraknya gula ilegal yang masuk ke Kalbar. Siapa yang melakukan itu. Ini yang menjadi tanda tanya," kata Ketua Apegti Kalbar, Sy. Usman Almuthahar. (rob)
Maraknya peredaran gula ilegal di Kalbar membuat pihak Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Pontianak merasa risih dan ikut bertanggungjawab lantaran dinilai gula adalah salah satu kebutuhan pokok yang strategis bagi ketahanan pangan menyangkut kepentingan hajat hidup orang ramai. Apalagi Lanal Pontianak adalah 1 dari 13 instansi terkait yang termasuk dalam anggota tim monitoring perdagangan gula antarpulau di Provinsi Kalimantan Barat.
"Jelas saya turunkan intelijen sendiri bagaimana kita mencari data, mengamati dan lain-lain terhadap peredaran gula ilegal di Kalbar. Apalagi sudah ada telegram dari Kasal. Jadi tidak ada kompromi terhadap kegiatan gula ilegal ini," tegas Komandan Lanal Pontianak, Letkol (s) Taufik Harun.
Danlanal menyebutkan bahwa setiap pos telah diberikan perintah agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah kapal yang diduga kemungkinan membawa gula tanpa dokumen lengkap alias ilegal. Pemangkat, Wajok dan Jungkat hingga Pontianak adalah tiga perairan yang dinilai jalur rawan untuk peredaran gula ilegal tersebut.
Guna mengantisipasi peredaran gula ilegal di Kalbar dia mengharapkan peran dan partisipasi masyarakat untuk memberikan informasi ke Lanal Pontianak. Sebab tanpa bantuan masyarakat tidak mungkin pihaknya dapat menangkap pelaku gula ilegal tersebut.
"Tapi informasi itu jangan main-main. Disebutkan ada kapal yang akan masuk muat gula ratusan ton tapi setelah kita kejar hingga ke Pulau Dato dari pagi hingga malam ketemu pagi tidak ada. Rupanya kita dibohongi. Bahan bakar sudah terpakai 10 ton. Bayangkan sekali kita dibohongi berapa nilai kerugian negara," ungkap Danlanal.
Pola pasif atau menunggu di titik rawan adalah strategi yang tepat untuk membekuk pelaku gula ilegal. Sebab pola ini yang kemungkinan lebih efektif daripada berputar ternyata hanya dibohongi.
"Karena kalau sudah enam mil cakrawala tidak kelihatan lagi. Sebab dengan speedboat kalau kena ombak besar tidak bisa jadi harus kembali lagi," ujarnya.
Harapannya dikatakan Danlanal Pemprov Kalbar dapat membantu dalam percepatan pembangunan pangkalan dan menyiapkan kapal untuk melakukan operasi di perairan Kalbar.
Berdasarkan SK dari Disperindag Kalbar Nomor 510/36/SPDN/2007 Tertanggal 18 Januari 2007 menyebutkan sebelas perusahaan di Kalbar direkomendasikan sebagai distributor gula eks impor. Dan berdasarkan Juklak Nomor 14/PDN/SK/III/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perdagangan Gula Antarpulau menyebutkan rekomendasi terhadap perusahaan tersebut diberikan jika ada permintaan dari Disperindag kabupaten/ kota setempat untuk kebutuhan gula di daerah setempat.
Kendati telah jelas peraturan tersebut, namun dalam perjalanannya peredaran gula di Kalbar terkesan kurang terkontrol. "Ini dapat dilihat maraknya gula ilegal yang masuk ke Kalbar. Siapa yang melakukan itu. Ini yang menjadi tanda tanya," kata Ketua Apegti Kalbar, Sy. Usman Almuthahar. (rob)
Si Pengusir Nyamuk dari Kulit Langsat
Pontianak, BERKAT.
Buah langsat salah satu buah tahunan "primadona" yang ada di Kota Pontianak, hampir setiap tahun sejumlah ruas jalan yang ada di Kota Pontianak dibanjir buah langsat ini. Akan tetapi sangat disayangkan tak semua orang mengetahui bahwa kulitnya yang selama ini dianggap sebagai sampah, ternyata memiliki kegunaan bagi kelangsungan hidup manusia.
Sejumlah pakar di Institut Pertanian Bogor (IPB) telah melakukan penelitian, bahwa sebenarnya kulit langsat ini dapat dijadikan sebagai pengusir nyamuk. Percobaan yang dilakukan karena melihat beberapa obat anti nyamuk lainnya memiliki efek samping yang dapat mengganggu kesehatan. Bahkan pada nilai ambang batas (nab) tertentu dapat menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Tidak hanya itu, bagi obat anti nyamuk poles dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan insektisida jika masuk dalam sistem peredaran darah akan menumpuk di hati sehingga mengakibatkan kegagalan fungsi hati dan ginjal.
Oleh karena itu dengan adanya obat anti nyamuk dari kulit langsat ini akan dapat menghindari semua efek samping yang terjadi pada obat anti nyamuk lainnya. Diyakini obat anti nyamuk dari kulit langsat ini tidak membahayakan kesehatan dan ramah lingkungan .
Keuntungan yang diperoleh obat anti nyamuk dari kult langsat ini yaitu betul-betul alami (enviro oriented) sehingga tidak mencemari pernapasan dan limbahnya tidak mencemari lingkungan bahkan limbah keringnya bisa dijadikan pupuk organik.
Kulit langsat memiliki sifat basah, meskipun rasanya manis atau asam, pH kulitnya untuk rendaman 100 gram kulit langsat dalam 50 mililiter aquadest sekitar 8-9. Efektifitas kulit langsat sebagai obat anti nyamuk diperkuat dengan getahnya yang lumayan lengket.
Jadi selama ini, kulit langsat yang dibuang-buang percuma. Ternyata memiliki manfaat yang sangat besar sebagai pengusir binatang penghisap darah manusia tersebut. (rob)
Kenyalang Enggang Bermotifkan Burung Enggang

Pontianak, BERKAT.
Suku Dayak sebagai suku pribumi di bumi Kalimantan dikenal memiliki adat istiadat dan budaya yang unik dengan keanekaragaman berbagai alat tradisional yang menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang ingin memilikinya.
Salah satunya adalah kenyalang enggang, yakni alat musik suku Dayak yang sejak dulu hingga kini sering digunakan diberbagai kegiatan budaya untuk mengiringi sebuah lagu khas suku Dayak.
Kenyalang Enggang yang kebanyakan digunakan oleh suku Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu yang merupakan kabupaten paling ujung timur Kalbar lebih kurang 900 kilometer dari Kota Pontianak ini terbuat dari kayu kenyalang.
Sehingga tak heran kalau alat musik ini bermotifkan ukiran burung enggang karena dalam bahasa Dayak Iban, kenyalang berarti enggang gading yang juga merupakan maskot pariwisata Kalimantan Barat. Konon dalam kepercayaan suku Dayak Iban, burung enggang dipercaya memiliki kekuatan yang dapat mengalahkan musuh-musuh suku tersebut.
Dengan paduan ukiran khas Dayak dan warna hitam dan kuning, enggang kenyalang menambah daya tarik bagi setiap orang yang menyaksikannya ketika ditampilkan dalam sebuah acara untuk mengiringi lagu khas Dayak.
Untuk lebih banyak lagi kita melihatnya, alat musik tradisional ini sering kali terlihat pada acara budaya seperti gawai yakni acara syukuran kepada Yang Maha Kuasa atas hasil panen padi yang melimpah setelah masyarakat melakukan penanaman selama lebih kurang tiga bulan.
Hal itu sebagai wujud dari komitmen masyarakat suku Dayak untuk mempertahankan alat musik tradisonalnya, kendati hanya terbuat dari bahan sederhana namun memiliki nilai sejarah dan budaya serta ekonomis tinggi sebagai daya tarik di dunia pariwisata Kalbar sekaligus menambah perbendaharaan alat musik tradisional daerah. Itulah Kalbar yang kaya tidak hanya di sektor sumber daya alamnya namun juga di sisi budaya dengan keanekaragamannya dan keunikannya patut dipertahankan untuk dilestarikan. (rob)
Pantai Temajuk di Bumi Serambi Mekkah


Pontianak, BERKAT.
Letaknya di sebelah utara Kota Pontianak dengan jarak lebih kurang 340 kilometer dengan waktu tempuh perjalanan 6 jam, Pantai Temajuk yang administrasinya termasuk bagian dari Desa Temajuk Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas ini memiliki daya tarik bagi siapa saja yang datang ke salah satu obyek wisata unggulan Sambas.
Tak heran kalau Pemkab Sambas mengategorikan pantai ini merupakan pantai terindah sepanjang pantai di kabupaten yang dikenal dengan sebutan Bumi Serambi Mekkah ini. Sebab dengan panorama dan kondisi alamnya masih boleh dikatakan masih dalam keadaan asli alias perawan.
Keunikan yang terjadi di pantai ini, ketika surut menyisakan hamparan pasir yang sangat luas dengan lebar sekitar 100-150 meter. Namun ketika memasuki bulan Oktober - Februari tiupan angin cukup kencang dan tinggi gelombang di pantai ini bisa mencapai 2 meter bahkan lebih. Inilah saat yang tepat untuk melakukan olahraga sky diving atau berselancar bagi mereka yang gemar dan mahir akan olahraga tersebut.
Bila anda menginginkan suasana pantai yang berbeda, di ujung utara bagian pantai ini terdapat pantai dengan gugusan batu berbagai ukuran membentuk formasi yang indah. Beberapa diantaranya memiliki keunikan pada bentuknya dengan ukuran yang cukup besar. Ditambah lagi air pantai yang jernih di antara bebatuan. Cocok untuk berenang, sementara kaki aman memijak lantai pantai yang berpasir sehingga termasuk kategori obyek wisata bawah air dan pantai pasir putih.
Dengan kelebihan yang dimilikinya, pantai ini berpotensi untuk kemajuan perekonomian apalagi dengan letaknya dari Kota Sambas yang berjarak 120 kilometer, kawasan pesisir ini langsung berbatasan dengan Laut Natuna dan Malaysia Timur.
Namun sayang, lemahnya SDM untuk pengeloaan, kurangnya sarana dan prasarana, lemahnya motivasi masyarakat serta membangun kemitraan dengan pihak luar menjadi kendala yang harus dipikirkan dan dicarikan solusinya oleh pemerintah.
Koordinatif, peningkatan fasilitas secara terpadu, dan pengembangan stabilisasi secara sinerigis adalah bagian strategi yang dapat dijadikan landasan untuk mengembangkan dan mempromosikannya ke luar daerah. Tujuannya tidak lain yakni mewujudkan visi dan misi Kabupaten Sambas sebagai kaupaten yang terpikat dan Terigas dalam rangka menuju Kalbar Tourism 2010.(rob)
Lancang Kuning Ikon Sejarah Budaya
Pontianak, BERKAT.
Banyaknya peninggalan sejarah di Kalimantan Barat, sering dijadikan sebagai salah satu maskot maupun ikon dalam berbagai kegiatan bai yang bersifat sosial, budaya atau pun kemasyarakatan. Seperti hal, Lancang Kuning, salah satu alat transportasi sejumlah kerajaan di Kalimantan Barat tempo dulu.
Khusus untuk di kalangan Istana Kadariah, Lancang Kuning bukan lagi merupakan peninggalan yang asing namun sejak dahulu sudah dipakai sultan Pontianak untuk berbagai kegiatan adat istiadat budaya menyusuri Sungai Kapuas.
Warnanya yang kuning adalah warna keramat bagi kerabat istana maupun masyarakat di kalangan etnis Melayu. Dengan panjang yang dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan, kadangkala perahu kebanggaan raja ketika itu, dapat ditumpangi antara 8 - 10 orang penumpang.
Namun seiring perkembangan zaman, Lancang Kuning jarang ditemui di berbagai tempat bahkan keberadaannya hampir hilang bak ditelan bumi. Beruntung saja, sejumlah pengrajin kecil masih memiliki hati yang luhur dengan mempertahankan kebesaran nama Lancang Kuning, dengan membuat duplikatnya berbagai ukuran.
Akan tetapi ada juga duplikat Lancang Kuning digunakan untuk parade budaya yang digelar setahun sekali baik event budaya masyarakat Dayak, Melayu atau pun yang lainnya misalnya ketika even robo-robo yang masih menggunakan motif Lancang Kuning. Oleh karena itu agar nilai sejarahnya tidak hilang dan tetap mempertahankan namanya sebagai salah satu ikon Kalbar, pemerintah saat ini telah membuat satu duplikatnya di Museum Negeri Provinsi Kalbar.
Tak hanya itu kepedulian terhadap peninggalan benda sejarah ini, juga ditunjukan beberapa penata dekorasi yang ada di Kota Pontianak untuk digunakan sebagai tempat meletakan buah-buahan atau minuman.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai nilai sejarah bangsanya sendiri. Demikian sebuah pepatah yang hingga kini masih berlaku. Komitmen dan kepedulian kita semua diharapkan untuk melestarikan berbagai benda bersejarah dan memiliki nilai peradaban tinggi tersebut.(rob)
Granit Bahan Material Konstruksi
Pontianak, BERKAT.
Kekayaan sumber daya tambang Kalbar dinilai dapat meningkatkan gairah ekonomi daerah ketika hal itu dikelola dengan profesional dan bijak. Namun, sayang masih banyak sumber daya tambang Kalbar hingga kini sebagiannya belum dikelola dengan optiomal.
Padahal jika dikelola dengan manajemen yang berpengalaman maka akan dapat mempengaruhi kehidupan perekonomian daerah yang berimbas pada struktur sosial hidup di masyarakat. Misalnya granit, salah satu jenis bahan tambang galian konstruksi yang menghasilkan jenis produk berupa batuan pecah yang memiliki kegunaan sebagai bahan material kontruksi, agregat jalan dan keramik.
Sumber yang didapat BERKAT dari Dinas Pertambangan dan Sumber Energi Provinsi Kalbar, potensi bahan galian granit menyebar di beberapa daerah Kalbar di antaranya Batu Ampar Gunung Daya Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Pontianak dengan jumlah cadangan mencapai 1,3 miliar ton, di Sungai Temilah Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak mencapai 11 miliar ton.
Kemudian Bukit Paloh dan Sajingan Kabupaten Sambas kandungan granit mencapai 1,6 juta ton, dan Jagoibabang Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang mencapai 640 juta ton, di Kecamatan Bonti, Tayan Hulu dan Kembayan Kabupaten Sanggau mencapai 2,3 miliar ton sedangkan Kecamatan Tumbang Titi, Kendawangan Kabupaten Ketapang dan Sukadana Kabupaten Kayong Utara diperkirakan mencapai 500 juta ton.
Meskipun, setiap daerah tersebut memiliki potensi yang dapat dikembangkan namun beberapa kendala atau permasalahan yang terjadi sering dihadapi para investor di antaranya masih kurangnya sarana infrastruktur yang belum memadai, jaringan komunikasi yang belum menjangkau ke daerah pelosok serta sarana listrik yang belum ada.
Padahal dengan potensi yang dimiliki daerah tersebut akan dapat menimbulkan multiplier effect guna meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat guna kepentingan pembangunan daerah. (rob)
Minggu, 27 April 2008
Pengawasan Pertamina Lemah
Pontianak, BERKAT.
Meningkatnya Kebutuhan harga pokok akhir-akhir ini, menjadi semakim parah akibat lemahnya pengawasan Pertamina maupun Hiswana Migas sebagai suatu lembaga, yang menaungi beberapa distributor (agen) minyak tanah dan gas di Kalbar termasuk Pontianak sebagai ibu kota provinsi.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Konsumen dan Lingkungan (LPKL) Kalbar, Drs. Burhanuddin Haris, M.Si, mengatakan hal itu terbukti semakin sulitnya akhir-akhir ini masyarakat memperoleh miyak tanah meskipun sudah antri beberapa jam. Pantauan LPKL di lapangan terutama di beberapa pangkalan minyak tanah antrian jerigen minyak tanah sebagian besar adalah jerigen para pengecer sehingga pada saat dibagikan sering kali masyarakat kehabisan jatah.
"Yang menyediakan juga begitu ada yang memperoleh. Jumlah liternya seringkali tidak mencukupi atau berkurang dan yang seharusnya diterima konsumen. Hasil investigasi LPKL mengindikasikan ada permainan antara pihak pangkalan dengan para pengecer yang membeli dengan harga dibawah HET (Harga Eceran Tertinggi) yang sudah dipatok pemerintah yaitu Rp2.400. Umumnya para pengecer (toko,red) menaikan lebih dari Rp2.500," ungkapnya.
Dia melihat kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama sementara tidak ada tindak lanjut dari pihak berwenang yaitu Pertamina maupun Hiswana Migas terhadap kenakalan pangkalan tersebut. Hal ini jelas merugikan masyarakat yang kurang mampu karena subsidi tersebut adalah hak mereka. LPKL berharap pihak Pertamina dapat memperjuangkan dan menarik kembali pengurangan jatah minyak tanah untuk Kalbar tahun 2008 yang tadinya 233.304 kl menjadi 193-749 kl yang disebabkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas berukuran 3 kg untuk masyarakat miskin sampai saat ini belum dilaksanakan.
"Begitu pula dengan LPG (gas) yang beberapa waktu lalu sulit diperoleh, sehingga harganya melonjak sangat fantastis mulai dari Rp85.000-Rp100.000. Padahal harga tabung 12 kg yang ditetapkan untuk Kota Pontianak Rp69.000, Singkawang Rp71.000, Sanggau Rp74.000, Ketapang Rp85.000," ungkapnya.
PT Gemilang Asia Sejahtera (GAS) yang memiliki kapal pengangkut hingga berkapasitas 500 ton gas diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gas di Kalbar. Namun masyarakat mengeluhkan sulitnya memperoleh tabung gas, kalaupun ada dengan harga yang tinggi melebihi harga yang telah ditetapkan yakni mencapai Rp221.000, sementara pemerintah sekarang sedang menggalakkan konversi minyak tanah ke gas.
"Bagaimanapun kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan karena dapat mengganggu kelancaran program konversi yang telah dicanangkan. Kebijakan konversi ini hanya akan berhasil jika semua bahan-bahan tersebut dapat diperolch dengan mudah," tegasnya.
Karena tabung gas 3 kg untuk masyarakat miskin belum dapat didistribusikan ke Kalbar, dikatakan Burhanuddin pihaknya mengharapkan pengawasan minyak tanah dan gas dapat dilakukan secara internal oleh Pertamina dan Hiswana Migas. Jika perlu diambil tindakan tegas bagi pihak-pihak yang menyelewengkan HET yang telah disepakati.
Di tempat terpisah, Kepala Disperindag Kalbar, Dra. Ida Kartini, M.Si mengharapkan agar para distributor tidak melakukan penimbunan terhadap gas yang merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi masyarakat apalagi menjelang kebijakan konversi.
"Berikan masyarakat yang terbaik apalagi kebutuhan masyarakat akangas mulai meningkat. Jadi diharapkan tidak ada penimbunan gas oleh distributor," tegasnya. (rob)
Meningkatnya Kebutuhan harga pokok akhir-akhir ini, menjadi semakim parah akibat lemahnya pengawasan Pertamina maupun Hiswana Migas sebagai suatu lembaga, yang menaungi beberapa distributor (agen) minyak tanah dan gas di Kalbar termasuk Pontianak sebagai ibu kota provinsi.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Konsumen dan Lingkungan (LPKL) Kalbar, Drs. Burhanuddin Haris, M.Si, mengatakan hal itu terbukti semakin sulitnya akhir-akhir ini masyarakat memperoleh miyak tanah meskipun sudah antri beberapa jam. Pantauan LPKL di lapangan terutama di beberapa pangkalan minyak tanah antrian jerigen minyak tanah sebagian besar adalah jerigen para pengecer sehingga pada saat dibagikan sering kali masyarakat kehabisan jatah.
"Yang menyediakan juga begitu ada yang memperoleh. Jumlah liternya seringkali tidak mencukupi atau berkurang dan yang seharusnya diterima konsumen. Hasil investigasi LPKL mengindikasikan ada permainan antara pihak pangkalan dengan para pengecer yang membeli dengan harga dibawah HET (Harga Eceran Tertinggi) yang sudah dipatok pemerintah yaitu Rp2.400. Umumnya para pengecer (toko,red) menaikan lebih dari Rp2.500," ungkapnya.
Dia melihat kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama sementara tidak ada tindak lanjut dari pihak berwenang yaitu Pertamina maupun Hiswana Migas terhadap kenakalan pangkalan tersebut. Hal ini jelas merugikan masyarakat yang kurang mampu karena subsidi tersebut adalah hak mereka. LPKL berharap pihak Pertamina dapat memperjuangkan dan menarik kembali pengurangan jatah minyak tanah untuk Kalbar tahun 2008 yang tadinya 233.304 kl menjadi 193-749 kl yang disebabkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas berukuran 3 kg untuk masyarakat miskin sampai saat ini belum dilaksanakan.
"Begitu pula dengan LPG (gas) yang beberapa waktu lalu sulit diperoleh, sehingga harganya melonjak sangat fantastis mulai dari Rp85.000-Rp100.000. Padahal harga tabung 12 kg yang ditetapkan untuk Kota Pontianak Rp69.000, Singkawang Rp71.000, Sanggau Rp74.000, Ketapang Rp85.000," ungkapnya.
PT Gemilang Asia Sejahtera (GAS) yang memiliki kapal pengangkut hingga berkapasitas 500 ton gas diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gas di Kalbar. Namun masyarakat mengeluhkan sulitnya memperoleh tabung gas, kalaupun ada dengan harga yang tinggi melebihi harga yang telah ditetapkan yakni mencapai Rp221.000, sementara pemerintah sekarang sedang menggalakkan konversi minyak tanah ke gas.
"Bagaimanapun kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan karena dapat mengganggu kelancaran program konversi yang telah dicanangkan. Kebijakan konversi ini hanya akan berhasil jika semua bahan-bahan tersebut dapat diperolch dengan mudah," tegasnya.
Karena tabung gas 3 kg untuk masyarakat miskin belum dapat didistribusikan ke Kalbar, dikatakan Burhanuddin pihaknya mengharapkan pengawasan minyak tanah dan gas dapat dilakukan secara internal oleh Pertamina dan Hiswana Migas. Jika perlu diambil tindakan tegas bagi pihak-pihak yang menyelewengkan HET yang telah disepakati.
Di tempat terpisah, Kepala Disperindag Kalbar, Dra. Ida Kartini, M.Si mengharapkan agar para distributor tidak melakukan penimbunan terhadap gas yang merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi masyarakat apalagi menjelang kebijakan konversi.
"Berikan masyarakat yang terbaik apalagi kebutuhan masyarakat akangas mulai meningkat. Jadi diharapkan tidak ada penimbunan gas oleh distributor," tegasnya. (rob)
AL Komitmen Berantas Kegiatan Ilegal
Pontianak, BERKAT.
Maraknya berbagai kegiatan ilegal di perairan Indonesia khususnya di Kalbar membuat Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) RI gerah lantaran akibat dari kegiatan ilegal tersebut kerugian yang diderita hingga miliaran rupiah baik materiil maupun moril yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.
Sehingga tak heran kalau Kasal mengirimkan telegram rahasia (TR) ke Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Pontianak untuk tetap mengawasi dengan ketat dan menindak tegas berbagai kegiatan ilegal yang melalui jalur laut.
"Saya baru terima telegram tadi pagi (Jumat, 25/4) dari Kasal bahwa tidak ada kompromi dengan kegiatan illegal logging, illegal fishing, illegal mining, trading, trafficking, beras maupun gula," tegas Komandan Lanal Pontianak, Letkol (s) Taufik Harun saat bertandang ke Redaksi Harian BERKAT.
Penegasan itu disampaikan Danlanal karena pihaknya tetap komitmen memberantas berbagai kegiatan ilegal yang ada di Kalbar. Karena itu dia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menegakan aturan di Kalbar. "Jadi, kalau ada satu informasi tolong sampaikan kepada saya, sama-sama kita tegakan aturan," katanya.
Berkaitan dengan illegal logging, diketahui selama ini para pelaku menggunakan kapal yang berukuran antara 300-350 GT dengan jumlah ratuan kubik per kapal untuk meloloskan kayu-kayunya ke Malaysia melalui jalur air. Jalur yang ditempuh kapal-kapal tersebut mulai dari perairan Ketapang, Sambas, Pulau Talang hingga ke Pelabuhan Sematan Sarawak Malaysia.
Menurut Danlanal, dalam pengawasan keluarnya kapal tersebut, pihak Lanal posisinya berada di ujung perairan. "Apalagi ketika kapal-kapal itu diperiksa mereka telah menunjukan dokumen lengkap. Sebab sebelum kayu itu keluar pasti sudah ada izin dari Dinas Kehutanan," katanya.
Danlanal sebutkan pihaknya telah menempatkan personil di enam pos yang dianggap titik rawan akan kegiatan ilegal antara lain, Tanjung Dato (Posal Temajo), Posal Paloh, Posal Mempawah, Posal Pulau Serutu Karimata, Posal Ketapang dan Posal Kendawangan. Tak hanya itu juga ditempatkan pos pengawasan di Padang Tikar, Sungai Kakap, Telok Melano, Kuala Karang, Pemangkat sebagai perpanjangan dari enam Posal yang telah dibangun.
Terhadap anggota yang terlibat, Lanal tegaskan pihaknya akan tetap melakukan proses hukum. "Tapi semuanya harus kita periksa dan buktikan dulu kebenarannya sampai sejauh apa keterlibatannya," ujar Danlanal.
Sepanjang 2008, Lanal Pontianak telah berhasil menangkap 4 kapal yang mengangkut berbagai jenis kayu campuran dengan jumlah total sekitar 200 meter kubik kayu. (rob)
Maraknya berbagai kegiatan ilegal di perairan Indonesia khususnya di Kalbar membuat Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) RI gerah lantaran akibat dari kegiatan ilegal tersebut kerugian yang diderita hingga miliaran rupiah baik materiil maupun moril yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.
Sehingga tak heran kalau Kasal mengirimkan telegram rahasia (TR) ke Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Pontianak untuk tetap mengawasi dengan ketat dan menindak tegas berbagai kegiatan ilegal yang melalui jalur laut.
"Saya baru terima telegram tadi pagi (Jumat, 25/4) dari Kasal bahwa tidak ada kompromi dengan kegiatan illegal logging, illegal fishing, illegal mining, trading, trafficking, beras maupun gula," tegas Komandan Lanal Pontianak, Letkol (s) Taufik Harun saat bertandang ke Redaksi Harian BERKAT.
Penegasan itu disampaikan Danlanal karena pihaknya tetap komitmen memberantas berbagai kegiatan ilegal yang ada di Kalbar. Karena itu dia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menegakan aturan di Kalbar. "Jadi, kalau ada satu informasi tolong sampaikan kepada saya, sama-sama kita tegakan aturan," katanya.
Berkaitan dengan illegal logging, diketahui selama ini para pelaku menggunakan kapal yang berukuran antara 300-350 GT dengan jumlah ratuan kubik per kapal untuk meloloskan kayu-kayunya ke Malaysia melalui jalur air. Jalur yang ditempuh kapal-kapal tersebut mulai dari perairan Ketapang, Sambas, Pulau Talang hingga ke Pelabuhan Sematan Sarawak Malaysia.
Menurut Danlanal, dalam pengawasan keluarnya kapal tersebut, pihak Lanal posisinya berada di ujung perairan. "Apalagi ketika kapal-kapal itu diperiksa mereka telah menunjukan dokumen lengkap. Sebab sebelum kayu itu keluar pasti sudah ada izin dari Dinas Kehutanan," katanya.
Danlanal sebutkan pihaknya telah menempatkan personil di enam pos yang dianggap titik rawan akan kegiatan ilegal antara lain, Tanjung Dato (Posal Temajo), Posal Paloh, Posal Mempawah, Posal Pulau Serutu Karimata, Posal Ketapang dan Posal Kendawangan. Tak hanya itu juga ditempatkan pos pengawasan di Padang Tikar, Sungai Kakap, Telok Melano, Kuala Karang, Pemangkat sebagai perpanjangan dari enam Posal yang telah dibangun.
Terhadap anggota yang terlibat, Lanal tegaskan pihaknya akan tetap melakukan proses hukum. "Tapi semuanya harus kita periksa dan buktikan dulu kebenarannya sampai sejauh apa keterlibatannya," ujar Danlanal.
Sepanjang 2008, Lanal Pontianak telah berhasil menangkap 4 kapal yang mengangkut berbagai jenis kayu campuran dengan jumlah total sekitar 200 meter kubik kayu. (rob)
Amura Kecewa Dengan FORKI
Pontianak, BERKAT.
Amura salah satu perguruan dibawah naungan FORKI (Federasi Olahraga Karate-do Indonesia) merasa kecewa lantaran selama ini dinilai tidak memiliki program aktivitas alias vakum sehingga dunia karete Kalbar menjadi mandeg dalam beberapa tahun terakhir ini.
Sekretaris Umum Amura Kalbar, Kurnia Hidayatulah, ST mengatakan selama ini latihan dijalankan terus oleh para karateka, tapi selama itu juga FORKI tak pernah mewujudkan apa yang telah diterima karetaka itu dalam bentuk kejuaraan sehingga menjadi sia-sia apa yang telah mereka dapat.
"Kalau pun ada kejuaraan, yang menggelar bukannya FORKI tapi masing-masing perguruan," katanya.
Dia mencontohkan bahwa Amura telah melakukan seleksi dari tingkat bawah mulai dari kejurda hingga kejurnas, pelatihan dan evaluasi pelatih setiap tiga bulan sekali bahkan mengirim pelatihnya ke Jepang selama 12 hari disana. Tak hanya itu Amura pun juga telah merambah hingga ke dunia pendidikan. Sejumlah sekolah diberikan ilmu karate yang termasuk dalam pelajaran olahraga ekstrakurikuler.
"Tujuannya tidak lain untuk bagaimana menguasai kaidah karate secara hirarki sehingga berkualitas karena di karate bukannya untuk mencari menang akan tetapi harus menguasai prinsip yang ada di karate seperti yang ada di janji karate," ungkapnya.
Hal itu dia maksudkan tidak hanya bagi karateka dan pelatih ataupun wasit akan tetapi lebih jauh juga bagi pengurus FORKI yang dinilai sebagai pembina dan panutan bagi karateka yang menaungi beberapa perguruan.
"Sebab persoalan-persoalan itu lambat laun dengan sendirinya akan melemahkan para karateka yang berpotensial," ujarnya.
Lebih lanjut dia katakan selama ini Pengpov FORKI Kalbar tak pernah akui Perguruan Amura, lantaran cabangnya tidak sampai tiga daerah. Padahal, hingga kini Amura telah memiliki empat, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Sambas dan Bengkayang. Selain itu, dalam satu musda, Amura pernah hanya sebagai peninjau. "Kalau boleh jujur, peran FORKI terhadap Amura selama ini tak pernah ada bahkan terkesan FORKI menghalangi kami untuk maju. Dan ini telah kami tanyakan ke Pengprov FORKI sesuai arahan pusat. Tapi tak ditanggapi dengan alasan alamat tak jelas. Padahal justru Pengprov FOKRI yang tak jelas alamatnya," tegasnya.
Dia juga mempertanyakan kenapa hasil musda September lalu tidak dijalankan. "Kami sebagai salah satu yang memberikan amanah kepada ketua terpilih berhak menanyakannya sebab wakil ketua Amura saat itu juga wakil ketua sidang," ungkapnya.
Yang lebih tak mengenakan lagi didengar dikatakan Kurnia ketika dirinya ditanya beberapa kawan dari cabang olahraga lain. "Kenapa FORKI tak ada kegiatan sedangkan dananya lebih besar dari cabang olahraga bela diri lainnya. Ini yang kita tidak inginkan apalagi FORKI bukannya tempat politik dan mencari nafkah. Tapi bagaimana memberikan pembinaan untuk prestasi atlit," ujar Kurnia. (rob)
Amura salah satu perguruan dibawah naungan FORKI (Federasi Olahraga Karate-do Indonesia) merasa kecewa lantaran selama ini dinilai tidak memiliki program aktivitas alias vakum sehingga dunia karete Kalbar menjadi mandeg dalam beberapa tahun terakhir ini.
Sekretaris Umum Amura Kalbar, Kurnia Hidayatulah, ST mengatakan selama ini latihan dijalankan terus oleh para karateka, tapi selama itu juga FORKI tak pernah mewujudkan apa yang telah diterima karetaka itu dalam bentuk kejuaraan sehingga menjadi sia-sia apa yang telah mereka dapat.
"Kalau pun ada kejuaraan, yang menggelar bukannya FORKI tapi masing-masing perguruan," katanya.
Dia mencontohkan bahwa Amura telah melakukan seleksi dari tingkat bawah mulai dari kejurda hingga kejurnas, pelatihan dan evaluasi pelatih setiap tiga bulan sekali bahkan mengirim pelatihnya ke Jepang selama 12 hari disana. Tak hanya itu Amura pun juga telah merambah hingga ke dunia pendidikan. Sejumlah sekolah diberikan ilmu karate yang termasuk dalam pelajaran olahraga ekstrakurikuler.
"Tujuannya tidak lain untuk bagaimana menguasai kaidah karate secara hirarki sehingga berkualitas karena di karate bukannya untuk mencari menang akan tetapi harus menguasai prinsip yang ada di karate seperti yang ada di janji karate," ungkapnya.
Hal itu dia maksudkan tidak hanya bagi karateka dan pelatih ataupun wasit akan tetapi lebih jauh juga bagi pengurus FORKI yang dinilai sebagai pembina dan panutan bagi karateka yang menaungi beberapa perguruan.
"Sebab persoalan-persoalan itu lambat laun dengan sendirinya akan melemahkan para karateka yang berpotensial," ujarnya.
Lebih lanjut dia katakan selama ini Pengpov FORKI Kalbar tak pernah akui Perguruan Amura, lantaran cabangnya tidak sampai tiga daerah. Padahal, hingga kini Amura telah memiliki empat, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Sambas dan Bengkayang. Selain itu, dalam satu musda, Amura pernah hanya sebagai peninjau. "Kalau boleh jujur, peran FORKI terhadap Amura selama ini tak pernah ada bahkan terkesan FORKI menghalangi kami untuk maju. Dan ini telah kami tanyakan ke Pengprov FORKI sesuai arahan pusat. Tapi tak ditanggapi dengan alasan alamat tak jelas. Padahal justru Pengprov FOKRI yang tak jelas alamatnya," tegasnya.
Dia juga mempertanyakan kenapa hasil musda September lalu tidak dijalankan. "Kami sebagai salah satu yang memberikan amanah kepada ketua terpilih berhak menanyakannya sebab wakil ketua Amura saat itu juga wakil ketua sidang," ungkapnya.
Yang lebih tak mengenakan lagi didengar dikatakan Kurnia ketika dirinya ditanya beberapa kawan dari cabang olahraga lain. "Kenapa FORKI tak ada kegiatan sedangkan dananya lebih besar dari cabang olahraga bela diri lainnya. Ini yang kita tidak inginkan apalagi FORKI bukannya tempat politik dan mencari nafkah. Tapi bagaimana memberikan pembinaan untuk prestasi atlit," ujar Kurnia. (rob)
Langganan:
Postingan (Atom)